Olah Raga - Saturday, 28 June 2003 21:45
BINTANG BINTANG LAPANGAN RUMPUT :Beckham Keranjingan Bola Sejak Kecil
-
DAVID ROBERT JOSEPH BECKHAM bisa dibilang beruntung, karena lahir di
tengah ‘keluarga bola’. Ayahnya, Ted Beckham, pemain bola - meski belum
menasional. Tapi yang lebih penting adalah kefanatikan ayahnya terhadap bola.
Juga kepada klub Manchester Unitred.
Kakek David juga gila bola, tapi tidak sebagai pemain. Berbeda dengan ayahnya
yang fan berat MU, kakeknya penggemar berat Arsenal. Jadi, ayah dan kakek
bertentangan.
Baik ayahnya maupun kakeknya, suka memberi kado atau hadiah yang ada kaitannya
dengan sepakbola. Selain membelikan bola untuk David kecil, ayahnya juga memberi
hadiah .. kaos berlogo Manchester United. Sementara kakeknya memberi kaos
berlogo Arsenal. Maka kalau David pergi ke rumah kakeknya, kaos Arsenal-lah yang
dipakai. Tentu untuk menyenangkan kakeknya. Tapi, sebaliknya, tindakannya itu
membuat ayahnya tidak senang. Untung, ayahnya cukup demokratis: dia tahu, David
mengenakan kaos Arsenal sekadar untuk menyenangkan kakeknya.
Seperti halnya Pele kecil digembleng ayahnya yang juga pemain sepakbola, begitu
pula David Beckham. Bedanya, Pele kemudian lebih banyak main sendiri bersama
teman-temannya, dan dengan bola seadanya. David sejak kecil sudah dibelikan
bola, tentusaja ‘khusus untuk anak’.
Sementara ibu, kakek dari ibunya, senang pada klub Tottenham Hotspur. Jadi,
David ‘terjepit’ di antara tiga orang dewasa keluarganya yang gila bola.
Kebetulan pula, mereka saling ‘membenci’. Artinya! ayahnya yang fans berat MU,
benci pada Arsenal. Sementara kakeknya benci pada MU. Begitu pula kakek dari ibu.
Tapi, tentu, yang paling dominan adalah Ted, ayah kandungnya. Karena ayahnya
penggila MU, maka sejak kecil pula, David sudah bercita-cita jadi pemain MU.
Meski ayahnya ‘benci’ Tottenham Hotspur, mislanya, dia sering membawa David ke
lapangan Spurs pula. Inilah demokrasi Barat. Mungkin agar David bisa
‘membandingkan’ antara tiga klub yang disukai ayah dan kedua kakeknya itu.
Karena sejak kecil sudah ‘dijejali’ bola, Beckham akhirnya tidak begitu suka
dengan pelajaran sekolah. “Aku paling tidak suka di dalam klas!” aku Beckham
terusterang. “Mendapat pendidikan yang baik, mungkin memang penting. But
football was the only thing on my mind. Tapi hanya sepakbolalah yang selalu ada
dalam kepala saya!”
Jadi, bisa dibilang Beckham tidak punya kenangan manis’ tentang sekolah.
“Soalnya aku memang tidak tertarik pada sekolah. Jadi aku tidak ingat pelajaran
apa saja yang telah diberikan. Satu-satunya yang aku sukai hanya pelajaran seni!’
Karena ‘yang ada dalam fikiran’ hanya bola, maka begitu sekolah selesai, Beckham
akan lari ke lapangan untuk bermain bola. Begitu keranjingannya, sehingga Bekham
kecil pernah main bola sampai ... pukul 23.00. Ini merupakan ‘pelanggaran
undang-undang rumahtangga’, karena pukul 21.00 harus sudah ada di rumah.
Karena telah ‘melanggar aturan’, Beckham dijatuhi hukuman : tidak boleh main
sepakbola selama satu hari. “That killed me!” katanya. “Hukuman itu berarti
telah ‘membunuhku’. Itulah hukuman paling berat yang pernah aku terima!”
Karena gilanya pada bola, di kemudian hari Beckham mengakui telah “kehilangan
masa kanak-kanakku”. Sebenarnya ini tidak 100 persen benar. Sebab dengan main
bola pun, Becks menikmati masa kanak-kanaknya. Tapi yang dimaksud dengan
‘kehilangan’ adalah ini: pada Malam Minggu, misalnya, anak-anak lain biasa
bersenang-senang. Nongkrong di pinggir jalan dan menggoda orang lewat. Atau
beramai-ramai nonton pertunjukan dan sebagainya. Beckham tidak suka itu. Sebab
... setiap Sabtu malam dia selalu menanti acara ‘Match of the Day’!
Acara sepakbola, itulah yang selalu ditunggu Becks. Jadi, sementara
teman-temannya menikmati ‘masa kecil’ dengan bermain-main atau raun-raun,
Beckham duduk serius di depan teve untuk menikmati pertandingan-pertandingan
sepakbola.
Ada alasan lain kenapa Becks tidak mau larut bersama teman-temannya. Mereka
biasanya main-main sampai malam, atau malah bergadang. Ini paling tidak disukai
Becks. Sebab dia ... harus bangun pagi untuk main sepakbola.
Kalau bergadang, dia tidak mungkin bisa bangun pagi. Berarti ‘kehilangan waktu
emas’ untuk main sepakbola !
“Football was drummed into me and it was all I wanted to do!” katanya.
“Sepakbolalah yang selalu ‘berdentang’ di dalam diri saya, dan itulah
satu-satunya yang ingin aku lakukan!”
Artinya : sudah sejak kecil, Beckham memang keranjingan sepakbola. Itulah
kesenangan satu-satunya yang membuatnya bahagia. Memainkannya. Tapi juga melihat
pertandingan-pertandingan yang dilakukan klub-klub ternama, khususnya MU.
“Pokoknya aku ingin mengetahui segalanya tentang sepakbola!” kata Becks tandas
-- (bersambung)
|
|
|
|