Olah Raga - Saturday, 28 June 2003 21:46
SEPAKBOLA PIALA KONFEDERASI Turnamen Setengah Hati
-
DI TENGAH kontroversi, turnamen sepakbola (maksudnya) antarbenua Piala
Konfederasi, digelar di Prancis 22 hingga 29 Juni ini. Delapan tim dibagi
menjadi dua grup. Tuanrumah Prancis di Grup A bersama Kolombia, Jepang, dan
Selandia Baru. Sementara Grup B dihuni Kamerun, Turki, Brasil, dan Amerika
Serikat.
Oleh penyelenggara turnamen (FIFA) event ini dibalut dengan satu dalih ‘suci’,
yakni kehendak untuk mengikis kejenuhan kegiatan industri yang melumpuhkan
kreativitas. Namun, di mata para praktisi sepakbola, justru pergelaran ini
dinilai sebagai pemaksaan kehendak untuk melipatgandakan kekayaan FIFA.
Sementara pemain dijadikan sapi perahan yang harus menguras tenaga sepanjang
waktu. Masadepan turnamen ini pun makin dipertanyakan.
Tidak Berguna
Di Prancis pun turnamen dua tahunan ini tidak memperoleh respon positif. Orang
lebih tertarik membicarakan Euro 2004, di mana Les Bleus masih perkasa menjadi
pimpinan klasemen.
Banyak tokoh sepakbola setempat, termasuk para praktisinya, menyebut turnamen
ini sebagai eksploitasi pemain. Salahsatunya yang bicara sangat lantang mengenai
masalah tersebut adalah Didier Deschamp, mantan kapten timnas Prancis yang kini
menjadi pelatih AS Monaco.
“Piala Konfederasi adalah sebuah pengikisan integritas kemampuan fisik para
pemain” katanya.
Suara senada dikumandangkan Arsene Wenger, pelatih Arsenal. Sejak awal ia sangat
tidak respek dengan penyelenggaraan Piala Konfederasi. Apalagi banyak pemainnya
yang dilibatkan, dan itu sangat mengganggu masa recovery mereka. Apalagi
turnamen ini digelar di tengah gencarnya timnas di Eropa berburu tiket ke Piala
Eropa yang akan dihelat tahun depan diPortugal.
“Piala Konfederasi sungguh tidak berguna, karena itu harus dihentikan” pesannya
singkat, tapi sangat tegas dan jelas.
Begitu nyaringnya suara-suara penolakan, tak heran jika masyarakat Prancis dan
dunia pada umumnya, tidak antusias menyimak. Turnamen ini pun seolah berlangsung
dengan setengah hati.
Etalase Pemain
Bagi sebagian pemain, terutama yang masuk bursa transfer, ajang ini mungkin bisa
dijadikan etalase untuk menarik minat klub-klub besar. Keruan saja, pemain yang
sudah ‘mapan’ enggan tampil di sini. Ketidaksertaan pemain-pemain bintang,
termasuk salahsatu yang membuat pamor Piala Konfederasi redup.
Tetapi lihatlah bagaimana Ronaldinho, yang kali ini seolah diplot sebagai
penyerang utama Brasil. Ia berusaha mencurahkan segenap kemampuan, dengan
harapan akan membuat para petinggi Manchester United segera melakukan deal
dengan Paris St. Germain untuk merekrut dirinya.
Skuad Les Bleus sendiri bukannya tidak punya kepentingan memenangi gelar.
Terutama bagi pelatih Jacques Santini. Ia ingin meneruskan sukses para
pendahulunya dengan memenangi berbagai gelar, sekalgus ‘menghasilkan tim produk
baru’ yang tak kalah hebat dari skuad warisan Roger Lemre maupun Aime Jaques.
Eksperimen barunya yang bertujuan membangun lini belakang sehebat kuartet Lilian
Thuram, Laurent Blanc, Marcel Desailly, dan Bixente Lizarazu, mulai tampak
hasilnya. Santini yakin, pada saatnya nanti kuartet bentukannya (Willy Sagnol,
Jean Alain Boumsong, William Gallas, dan Mikael Silvestre) bakal merepotkan para
penyerang klas dunia.
Pecundang Abadi
Sejak Piala Dunia 1990 di Italia hingga 2002 di Jepang-Korea, Kamerun selalu
muncul sebagai tim sarat kejutan. Tak terkecuali di Piala Konfederasi kali ini.
Berada di grup keras bersama Brasil dan Turki, anakbuah Winfried Schaefer seolah
terlalu gampang melenggang ke semifinal. Anehnya, sejak dulu Kamerun tak pernah
benar-benar diunggulkan. Orang terlanjur meyakini klas tim berjuluk ‘Singa Gurun’
itu tak lebih sekadar pecundang. Akan abadikah gelar tazk sedap itu?
Banyak yang harus dibuktikan Rigobert Song dan kawan-kawan. Setidaknya,
tuanrumah Prancis sejak awal memilih Brasil sebagai rival di final. Tapi,
sementara Les Bleus berjalan mulus, Selecao malah loyo.
(Lis)
|
|
|
|