[LOGIN] [H o m e ]
Menu Utama
HOME - TOPIK

TOP Hit
Kirim Berita
Buku Tamu MP
Lihat Komentar
Situs Jogja

No.12 Th.60 Minggu III Juli 2007 (9)

No.11 Th.60 Minggu II Juni 2007 (9)

No.10 Th.60 Minggu I Juni 2007 (5)

No.09 Th.60 Minggu IV Mei 2007 (13)

No.36 Th.59 Minggu I Desember 2006 (21)

No.35 Th.59 Minggu IV November 2006 (27)


Online
Pengunjung dan Anggota
Kirim Pesan Pribadi.
Arsip Pesan Pribadi.

Selamat bergabung untuk anggota baru : grandonk

Cari Artikel


Modules
· Beritahu Teman
· Daftar Anggota
· Feedback
· Statistik MP


Warning: setlocale() [function.setlocale]: Passing locale category name as string is deprecated. Use the LC_* -constants instead. in /opt/lampp/htdocs/kr/mp/mainfile.php on line 496
Olah Raga - Saturday, 28 June 2003 21:46

SEPAKBOLA PIALA KONFEDERASI Turnamen Setengah Hati
-

DI TENGAH kontroversi, turnamen sepakbola (maksudnya) antarbenua Piala Konfederasi, digelar di Prancis 22 hingga 29 Juni ini. Delapan tim dibagi menjadi dua grup. Tuanrumah Prancis di Grup A bersama Kolombia, Jepang, dan Selandia Baru. Sementara Grup B dihuni Kamerun, Turki, Brasil, dan Amerika Serikat.

Oleh penyelenggara turnamen (FIFA) event ini dibalut dengan satu dalih ‘suci’, yakni kehendak untuk mengikis kejenuhan kegiatan industri yang melumpuhkan kreativitas. Namun, di mata para praktisi sepakbola, justru pergelaran ini dinilai sebagai pemaksaan kehendak untuk melipatgandakan kekayaan FIFA.

Sementara pemain dijadikan sapi perahan yang harus menguras tenaga sepanjang waktu. Masadepan turnamen ini pun makin dipertanyakan.

Tidak Berguna

Di Prancis pun turnamen dua tahunan ini tidak memperoleh respon positif. Orang lebih tertarik membicarakan Euro 2004, di mana Les Bleus masih perkasa menjadi pimpinan klasemen.

Banyak tokoh sepakbola setempat, termasuk para praktisinya, menyebut turnamen ini sebagai eksploitasi pemain. Salahsatunya yang bicara sangat lantang mengenai masalah tersebut adalah Didier Deschamp, mantan kapten timnas Prancis yang kini menjadi pelatih AS Monaco.

“Piala Konfederasi adalah sebuah pengikisan integritas kemampuan fisik para pemain” katanya.

Suara senada dikumandangkan Arsene Wenger, pelatih Arsenal. Sejak awal ia sangat tidak respek dengan penyelenggaraan Piala Konfederasi. Apalagi banyak pemainnya yang dilibatkan, dan itu sangat mengganggu masa recovery mereka. Apalagi turnamen ini digelar di tengah gencarnya timnas di Eropa berburu tiket ke Piala Eropa yang akan dihelat tahun depan diPortugal.

“Piala Konfederasi sungguh tidak berguna, karena itu harus dihentikan” pesannya singkat, tapi sangat tegas dan jelas.

Begitu nyaringnya suara-suara penolakan, tak heran jika masyarakat Prancis dan dunia pada umumnya, tidak antusias menyimak. Turnamen ini pun seolah berlangsung dengan setengah hati.

Etalase Pemain

Bagi sebagian pemain, terutama yang masuk bursa transfer, ajang ini mungkin bisa dijadikan etalase untuk menarik minat klub-klub besar. Keruan saja, pemain yang sudah ‘mapan’ enggan tampil di sini. Ketidaksertaan pemain-pemain bintang, termasuk salahsatu yang membuat pamor Piala Konfederasi redup.

Tetapi lihatlah bagaimana Ronaldinho, yang kali ini seolah diplot sebagai penyerang utama Brasil. Ia berusaha mencurahkan segenap kemampuan, dengan harapan akan membuat para petinggi Manchester United segera melakukan deal dengan Paris St. Germain untuk merekrut dirinya.

Skuad Les Bleus sendiri bukannya tidak punya kepentingan memenangi gelar. Terutama bagi pelatih Jacques Santini. Ia ingin meneruskan sukses para pendahulunya dengan memenangi berbagai gelar, sekalgus ‘menghasilkan tim produk baru’ yang tak kalah hebat dari skuad warisan Roger Lemre maupun Aime Jaques.

Eksperimen barunya yang bertujuan membangun lini belakang sehebat kuartet Lilian Thuram, Laurent Blanc, Marcel Desailly, dan Bixente Lizarazu, mulai tampak hasilnya. Santini yakin, pada saatnya nanti kuartet bentukannya (Willy Sagnol, Jean Alain Boumsong, William Gallas, dan Mikael Silvestre) bakal merepotkan para penyerang klas dunia.

Pecundang Abadi

Sejak Piala Dunia 1990 di Italia hingga 2002 di Jepang-Korea, Kamerun selalu muncul sebagai tim sarat kejutan. Tak terkecuali di Piala Konfederasi kali ini.

Berada di grup keras bersama Brasil dan Turki, anakbuah Winfried Schaefer seolah terlalu gampang melenggang ke semifinal. Anehnya, sejak dulu Kamerun tak pernah benar-benar diunggulkan. Orang terlanjur meyakini klas tim berjuluk ‘Singa Gurun’ itu tak lebih sekadar pecundang. Akan abadikah gelar tazk sedap itu?

Banyak yang harus dibuktikan Rigobert Song dan kawan-kawan. Setidaknya, tuanrumah Prancis sejak awal memilih Brasil sebagai rival di final. Tapi, sementara Les Bleus berjalan mulus, Selecao malah loyo.

(Lis)

Artikel Lainnya
Ria Rumaningsih
Wibowo Pengabdi Lingkungan 2003
Bisnis Seks Makin Blak-blakan
Pil Aborsi Nekat Beriklan hasinya Tipuan
Angker Karena Bekas Gudang Senjata
Nanako Matsushima Keberuntungan Milik Siapa?
Penyelarasan Melalui Kristal
Mahalnya Sekolah !
Sehari Bersama Hj Sri Pudjiati, Direktris Al Buruuj Catering
PROTES KYOKO FUKADA
Dari Perancis Rindu Indonesia
Filsafat ’Tela’
Membaca Ba’asyir dan Terorisme
SEPAKBOLA PIALA KONFEDERASI Turnamen Setengah Hati
BINTANG BINTANG LAPANGAN RUMPUT :Beckham Keranjingan Bola Sejak Kecil
PETARUNG PETARUNG LEGENDARIS FORMULA SATU (F-1) Gelar Terakhir untuk Temannya yang Tewas
Wimbledon : Nama-nama Baru Akan Berjaya ?
Mungkinkah Lennox Lewis vs Roy Jones Jr ?l Klitchko dikalahkan Klitchko sendiri !
TRUE STORY KRIMINAL : DUA WANITA VS PEMERKOSA - PEMBUNUH Tidak Diperkosa dan Tidak Dirampok : Jadi ?
PARA DIVA HOLLYWOOD : YANG SEMOK YANG ANGGUN Sejak Kecil Tubuh MM Diincar Banyak Lelaki
Cari Tahu Lewat E-Mail
Aman, Stok Pakan Ternak di Jateng
Blak-blakan ANISSA NURUL SHANTY Seksi Tidak Berarti Buka-bukaan
Kuncung Ronaldo Terbukti Bertuah
Gila Judi, Pecatan Polisi Mbegal Motor

Login/Daftar | 0 Komentar |
Komentar adalah properti pengirimnya. Kami tidak bertanggung jawab atas isinya.

Copyright © 2000 by Minggu Pagi Online