Pustaka - Saturday, 28 June 2003 21:48
Membaca Ba’asyir dan Terorisme
-
(Kontroversi Ba’asyir, Jihad Melawan Opini Fitnah Global, Idi Subandy
Ibrahim & Asep Syamsul M Romli, Penerbit Nuansa, Bandung, Januari 2003, 160
halaman)
BUKU ini barangkali dimaksudkan untuk mengejar aktualitas, ketika
Abubakar Ba’asyir banyak disebut dan dikaitkan dengan tragedi Bali. Memang,
banyak kita baca dan kita lihat, pasca bom meledak di Bali, 12 Oktober 2002,
dugaan keterlibatan sejumlah orang atau kelompok Islam tertentu. Tuduhan dan
dugaan semacam itu, terutama ditujukan kepada kelompok Islam, sangat boleh jadi
membuat sedih. Apalagi ketika citra Islam mulai babak belur.
Idi dan Asep sebagai penulis buku ini merasa prihatin sehingga terpanggil dengan
niat sharing pengetahuan dan membuka wacana tentang panggung-panggung pementasan
isu terorisme yang melibatkan Ba’asyir. Tetapi, siapakah Ba’asyir itu sendiri,
menarik dipertanyakan. Dalam buku ini, pertanyaan itu sedikit banyak akan
terjawab.
Dia adalah nama sekaligus simbol yang memancarkan sosok insan Muslim yang tegar
dalam pendiriannya. Dalam banyak kesempatan, ia menyebutkan bahwa Amerika
Serikat adalah musuh terbesar umat Islam. Ba’asyir lahir sekitar 64 tahun lalu
dari keluarga sederhana di Desa Pekunden, Mojoagung, Jombang. Orangtuanya
pedagang. Mungkin tak pernah ia bayangkan kalau dirinya bakal dituduh sebagai
teroris internasional. Namanya menghiasi media. Potretnya juga terpampang di
berbagai media.
Nama Ba’asyir mulai muncul ketika Malaysia dan Singapura menyebutkan para
aktivis Kumpulan Mujahidin Malaysia (KMM) itu dipimpin oleh tokoh-tokoh dari
Indonesia. The Straits Time, 18 Februari 2002, misalnya memuat tuduhan Lee Kwan
Yew bahwa Singapura masih berisiko menjadi sasaran serangan teroris karena masih
berkeliarannya pemimpin-pemimpin ekstrem di Indonesia. Koran tersebut juga
menyebut nama Ba’asyir, Hambali dan Iqbal A Rahman, yang disebutnya berasal dari
Majelis Mujahiddin Indonesia.
Membaca buku ini, kita diberi informasi mengenai peristiwa politik yang
mengaitkan peran tokoh-tokoh ekstrem dan organisasi keagamaan seperti Jamaah
Islamiyah. Nama organisasi ini mencuat belakangan ketika Amerika melakukan
kampanye anti terorisme global pasca tragedi 11 September 2001. Organisasi itu
diendus sebagai bagian jaringan Al Qaeda pimpinan Usamah bin Laden. Dan, karena
terkait dengan Al Qaeda, tentu saja Jamaah Islamiyah juga kena cap teroris.
Tetapi, kita perlu mengutip ucapan Dr Nurcholish Madjid, bahwa apabila ada
seorang atau beberapa orang Muslim terlibat dalam terorisme atau bahkan jika
terbukti secara adil dan benar bahwa semua pelaku terorisme itu orang-orang
Muslim, tetap tidak berarti Islam dan umat Islam berada di balik kejahatan itu.
Di sisi lain, kita memang bisa memahami sosok kontroversial Abubakar Ba’asyir
ini, yang perannya cukup menarik karena dikaitkan dengan Islam dan terorisme
global. Buku ini, kiranya menarik dibaca dan dipahami.
(Arwan Tuti Artha)
|
|
|
|