[LOGIN] [H o m e ]
Menu Utama
HOME - TOPIK

TOP Hit
Kirim Berita
Buku Tamu MP
Lihat Komentar
Situs Jogja

No.12 Th.60 Minggu III Juli 2007 (9)

No.11 Th.60 Minggu II Juni 2007 (9)

No.10 Th.60 Minggu I Juni 2007 (5)

No.09 Th.60 Minggu IV Mei 2007 (13)

No.36 Th.59 Minggu I Desember 2006 (21)

No.35 Th.59 Minggu IV November 2006 (27)


Online
Pengunjung dan Anggota
Kirim Pesan Pribadi.
Arsip Pesan Pribadi.

Selamat bergabung untuk anggota baru : grandonk

Cari Artikel


Modules
· Beritahu Teman
· Daftar Anggota
· Feedback
· Statistik MP


Warning: setlocale() [function.setlocale]: Passing locale category name as string is deprecated. Use the LC_* -constants instead. in /opt/lampp/htdocs/kr/mp/mainfile.php on line 496
Rasanan - Saturday, 28 June 2003 21:57

Mahalnya Sekolah !
-

AGENDA tahunan untuk para orang tua pusing seribu keliling mencarikan putra kesayangannya sekolah, tiba kembali. Saat ini para orang tua siswa sedang pusing-pusingnya mencarikan anak tercinta sekolah sesuai tingkat pendidikannya. Yang lulus Sekolah Dasar (SD) pusing mencarikan sekolah lanjutannya di SLTP. Yang lulus SLTP tidak kalah mumetnya mencarikan sekolah lanjutannya di SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas). Masing-masing sekolah tersebut ada yang dikenal dengan sekolah favorit. Yaitu sekolah yang diinformasikan memiliki sistem pendidikan unggul, sehingga kelak lulusannya dipastikan baik.

Penyebab keunggulan itu antara lain disebutkan karena para guru mutunya bagus, sarana pendukung pengajaran lengkap, disiplin yang diterapkan di sekolah tersebut berlangsung baik, pergaulan anak didik dinamis dan terkontrol. Dan puncak dari kepusingan itu adalah mencarikan anak yang baru lulus SLTA guna meneruskan pendidikan di perguruan tinggi. Seperti diketahui, beaya untuk belajar di Perguruan Tinggi untuk saat ini tidak ada yang murah. Hampir semua perguruan tinggi yang ada menyatakan dirinya baik dan bermutu. Untuk menjadi baik dan bermutu itu, diperlukan dana yang tidak sedikit. Nah,dari sinilah datangnya kalkulasi beaya pendidikan yang mencekik leher orangtua itu.

Apa dan bagaimana sikap masyarakat menghadapi beaya pendidikan yang mahal itu ? Bagi anggota masyarakat yang benar-benar berada pada posisi lemah ekonomi alias sungguh-sungguh miskin, maka menyekolahkan anak ke jenjang pendidikan selanjutnya,merupakan sesuatu impian. Mimpi yang bagi mereka takkan pernah menjadi kenyataan. Sekolah bagi mereka yang miskin ini tidak beda dengan barang mewah yang tak terbeli. Sementara, ada kondisi yang bertolak belakang dengan kondisi saudara-saudara kita tadi. Sebagian anggota masyarakat yang disebut-sebut terakhir ini adalah sekelompok masyarakat yang ekonominya kuat. Berapapun beaya yang diminta untuk supaya anaknya bisa diterima di jenjang pendidikan manapun, tidak menjadi soal.Bahkan ada sekelompok masyarakat yang tidak puas dengan mutu pendidikan di dalam negeri, sehingga merasa terpaksa menyekolahkan putranya ke manca negara. Suasana yang kontras dan tidak adil ini sudah terjadi cukup lama. Dan kita ternyata tidak mampu mengatasi ketidak adilan dalam soal pendidikan ini.

Pemerintah sendiri dengan alasan kondisi keuangan negara yang tidak memungkinkan, malah berusaha mengurangi subsidi di bidang pendidikan ini. Beberapa perguruan tinggi yang sebelumnya memperoleh dana bantuan pemerintah cukup besar, kini berangsur-angsur dikurangi. Posisi bantuan dari pemerintah ini disarankan supaya dicari sendiri oleh pengelola perguruan tinggi yang dimaksud. Jalan keluarnya, ya terpaksa lagi memasang beaya masuk perguruan tinggi ini dengan tarif yang tinggi. Dari kenyataan ini,kiranya kita pada suatu saat akan dihadapkan dengan realita merosotnya kualitas sumber daya manusia Indonesia akibat tidak terdidik. Padahal, pengalaman negara-negara yang kini maju berpendapat,bahwa suatu negara bisa maju apabila kualitas pendidikan bangsanya baik. Ini bisa terlaksana karena program pendidikan bangsa ditangani pemerintah dengan baik dan murah. Bahkan ada negara yang memberi beaya cuma-cuma kepada anak bangsanya. Situasi seperti ini sangatlah bertolak belakang dengan kondisi yang dihadapi bangsa Inbdonesia saat ini. Kita sungguh prihatin dengan kondisi pendidikan bangsa kita.***

Artikel Lainnya
Ria Rumaningsih
Wibowo Pengabdi Lingkungan 2003
Bisnis Seks Makin Blak-blakan
Pil Aborsi Nekat Beriklan hasinya Tipuan
Angker Karena Bekas Gudang Senjata
Nanako Matsushima Keberuntungan Milik Siapa?
Penyelarasan Melalui Kristal
Mahalnya Sekolah !
Sehari Bersama Hj Sri Pudjiati, Direktris Al Buruuj Catering
PROTES KYOKO FUKADA
Dari Perancis Rindu Indonesia
Filsafat ’Tela’
Membaca Ba’asyir dan Terorisme
SEPAKBOLA PIALA KONFEDERASI Turnamen Setengah Hati
BINTANG BINTANG LAPANGAN RUMPUT :Beckham Keranjingan Bola Sejak Kecil
PETARUNG PETARUNG LEGENDARIS FORMULA SATU (F-1) Gelar Terakhir untuk Temannya yang Tewas
Wimbledon : Nama-nama Baru Akan Berjaya ?
Mungkinkah Lennox Lewis vs Roy Jones Jr ?l Klitchko dikalahkan Klitchko sendiri !
TRUE STORY KRIMINAL : DUA WANITA VS PEMERKOSA - PEMBUNUH Tidak Diperkosa dan Tidak Dirampok : Jadi ?
PARA DIVA HOLLYWOOD : YANG SEMOK YANG ANGGUN Sejak Kecil Tubuh MM Diincar Banyak Lelaki
Cari Tahu Lewat E-Mail
Aman, Stok Pakan Ternak di Jateng
Blak-blakan ANISSA NURUL SHANTY Seksi Tidak Berarti Buka-bukaan
Kuncung Ronaldo Terbukti Bertuah
Gila Judi, Pecatan Polisi Mbegal Motor

Login/Daftar | 0 Komentar |
Komentar adalah properti pengirimnya. Kami tidak bertanggung jawab atas isinya.

Copyright © 2000 by Minggu Pagi Online