Rasanan - Saturday, 28 June 2003 21:57
Mahalnya Sekolah !
-
AGENDA tahunan untuk para orang tua pusing seribu keliling mencarikan
putra kesayangannya sekolah, tiba kembali. Saat ini para orang tua siswa sedang
pusing-pusingnya mencarikan anak tercinta sekolah sesuai tingkat pendidikannya.
Yang lulus Sekolah Dasar (SD) pusing mencarikan sekolah lanjutannya di SLTP.
Yang lulus SLTP tidak kalah mumetnya mencarikan sekolah lanjutannya di SLTA (Sekolah
Lanjutan Tingkat Atas). Masing-masing sekolah tersebut ada yang dikenal dengan
sekolah favorit. Yaitu sekolah yang diinformasikan memiliki sistem pendidikan
unggul, sehingga kelak lulusannya dipastikan baik.
Penyebab keunggulan itu
antara lain disebutkan karena para guru mutunya bagus, sarana pendukung
pengajaran lengkap, disiplin yang diterapkan di sekolah tersebut berlangsung
baik, pergaulan anak didik dinamis dan terkontrol. Dan puncak dari kepusingan
itu adalah mencarikan anak yang baru lulus SLTA guna meneruskan pendidikan di
perguruan tinggi. Seperti diketahui, beaya untuk belajar di Perguruan Tinggi
untuk saat ini tidak ada yang murah. Hampir semua perguruan tinggi yang ada
menyatakan dirinya baik dan bermutu. Untuk menjadi baik dan bermutu itu,
diperlukan dana yang tidak sedikit. Nah,dari sinilah datangnya kalkulasi beaya
pendidikan yang mencekik leher orangtua itu.
Apa dan bagaimana sikap masyarakat menghadapi beaya pendidikan yang mahal itu ?
Bagi anggota masyarakat yang benar-benar berada pada posisi lemah ekonomi alias
sungguh-sungguh miskin, maka menyekolahkan anak ke jenjang pendidikan
selanjutnya,merupakan sesuatu impian. Mimpi yang bagi mereka takkan pernah
menjadi kenyataan. Sekolah bagi mereka yang miskin ini tidak beda dengan barang
mewah yang tak terbeli. Sementara, ada kondisi yang bertolak belakang dengan
kondisi saudara-saudara kita tadi. Sebagian anggota masyarakat yang
disebut-sebut terakhir ini adalah sekelompok masyarakat yang ekonominya kuat.
Berapapun beaya yang diminta untuk supaya anaknya bisa diterima di jenjang
pendidikan manapun, tidak menjadi soal.Bahkan ada sekelompok masyarakat yang
tidak puas dengan mutu pendidikan di dalam negeri, sehingga merasa terpaksa
menyekolahkan putranya ke manca negara. Suasana yang kontras dan tidak adil ini
sudah terjadi cukup lama. Dan kita ternyata tidak mampu mengatasi ketidak adilan
dalam soal pendidikan ini.
Pemerintah sendiri dengan alasan kondisi keuangan negara yang tidak memungkinkan,
malah berusaha mengurangi subsidi di bidang pendidikan ini. Beberapa perguruan
tinggi yang sebelumnya memperoleh dana bantuan pemerintah cukup besar, kini
berangsur-angsur dikurangi. Posisi bantuan dari pemerintah ini disarankan supaya
dicari sendiri oleh pengelola perguruan tinggi yang dimaksud. Jalan keluarnya,
ya terpaksa lagi memasang beaya masuk perguruan tinggi ini dengan tarif yang
tinggi. Dari kenyataan ini,kiranya kita pada suatu saat akan dihadapkan dengan
realita merosotnya kualitas sumber daya manusia Indonesia akibat tidak terdidik.
Padahal, pengalaman negara-negara yang kini maju berpendapat,bahwa suatu negara
bisa maju apabila kualitas pendidikan bangsanya baik. Ini bisa terlaksana karena
program pendidikan bangsa ditangani pemerintah dengan baik dan murah. Bahkan ada
negara yang memberi beaya cuma-cuma kepada anak bangsanya. Situasi seperti ini
sangatlah bertolak belakang dengan kondisi yang dihadapi bangsa Inbdonesia saat
ini. Kita sungguh prihatin dengan kondisi pendidikan bangsa kita.***
|
|
|
|