[LOGIN] [H o m e ]
Menu Utama
HOME - TOPIK

TOP Hit
Kirim Berita
Buku Tamu MP
Lihat Komentar
Situs Jogja

No.12 Th.60 Minggu III Juli 2007 (9)

No.11 Th.60 Minggu II Juni 2007 (9)

No.10 Th.60 Minggu I Juni 2007 (5)

No.09 Th.60 Minggu IV Mei 2007 (13)

No.36 Th.59 Minggu I Desember 2006 (21)

No.35 Th.59 Minggu IV November 2006 (27)


Online
Pengunjung dan Anggota
Kirim Pesan Pribadi.
Arsip Pesan Pribadi.

Selamat bergabung untuk anggota baru : grandonk

Cari Artikel


Modules
· Beritahu Teman
· Daftar Anggota
· Feedback
· Statistik MP


Warning: setlocale() [function.setlocale]: Passing locale category name as string is deprecated. Use the LC_* -constants instead. in /opt/lampp/htdocs/kr/mp/mainfile.php on line 496
No.39 Th.56 Minggu IV Desember 2003 Apa & Siapa - Sunday, 04 January 2004 01:45

Nyadi Karmorejo Penerima Award Itu Pernah Jadi Pembantu Rumah tangga dan Kuli Bangunan
-

TERKEJUT Nyadi, begitu diundang menerima penghargaan dari Sido Muncul. Perusahaan jamu itu memberinya penghargaan sebagai pengabdi anak telantar.

Award Sido Muncul ini serius. Dewan Penilainya tidak main-main : Mohamad Sobary, Romo Sandyawan, dan mantan Kapolri Anton Sujarwo.

“Dulu saya senasib dengan anak-anak telantar yang sekarang saya abdi. Ini yang membuat saya terpanggil ingin membantu mereka” kata pria kelahiran Randublatung Grobogan 25 Februari 1960, anak kedua dari tiga bersaudara, dilahirkan dari keluarga petani miskin, yang untuk biaya sekolah sejak SD harus menjadi pembantu rumah tangga.

“Menjadi orang miskin itu sangat tidak enak. Kelas II SD ketika saya pulang ke rumah nenek di Blora sambil membawa ayam jago blorok, pernah dituduh mencuri ayam Pak Lurah yang kebetulan juga blorok” cerita Nyadi. “Saya sempat diseret ke rumah Pak Lurah. Untung, ayam yang saya bawa masih hidup. Lalu saya tunjukkan kepada Pak Lurah. Ternyata, ayam Pak Lurah yang hilang itu betina. Saya dilepas, tapi tetap saja saya malu dan sangat sakit....”

***

MESKI
nyambi sebagai pembantu rumah tangga, Nyadi kecil bersemangat sekolah. Saat lulus SD ia Siswa Teladan Tingkat Kecamatan. Tapi setelah itu ia pusing sendiri. Orangtuanya tak mampu membiayainya ke SMP. Majikannya juga menolak, dengan alasan “bagaimana dengan tugas rumah kalau kamu sekolah?”. Lalu, Nyadi pun jualan koran dan majalah. Pagi-pagi benar diambilnya dagangan di stasiun. Lalu ia berangkat ke sekolah. Baru setelah pulang, koran dikelilingkannya ke pelanggan.

Semakin yakinlah dia, bahwa jika ada kemauan, pasti jalan pun terbentang.

SMA dilanjutkannya ke Yogya. Masuk SMA Bopkri 3. Sekolahnya siang, maka pagi ia bisa bekerja. Menjadi kuli bangunan. Lalu malamnya jadi penjaga malam di sebuah klinik kesehatan di Kemetiran. “Sambil jaga malam itu, saya belajar. Dan, bisa kok. Bahkan di sekolah saya jadi Sekretaris OSIS” kata Nyadi,

 Menangani Anak Jalanan Itu Sulit

Obsesinya : Tak Ada Lagi Anak yang Turun ke Jalan

Tidak Setuju Pendapat Bahwa Hidup di Jalan Itu Hak

Karena Anak Jalanan Itu Mengganggu Banyak Pihak

Dan Kehidupan Jalanan Tak Baik bagi Kesehatan Mereka

MANTAN ‘anak telantar’ itu kini membantu anak-anak telantar. Bukan main perjalanan hidup Nyadi Karmorejo. SD sambil jadi PRT. SMP sambil jual koran. SMU sambil jadi kuli bangunan dan jaga malam. Tapi Nyadi sempat kuliah di dua perguruan tinggi : STIE Gama dan STIAI Masjid Syuhada. Sayang tak lulus. Dan sejak 1990, ia terpanggil untuk ikut menangani masalah pendidikan anak-anak dari keluarga kurang mampu. Dimulainya dari sekitar rumah kontrakannya, Nologaten Caturtunggal.

Pernah bekerja sebagai reporter sebuah harian di Yogya. Dari kerjanya itu ia punya banyak relasi dermawan. Uang dermawan inilah yang dikelola Nyadi, untuk membantu beaya pendidikan 40 anak dari keluarga miskin. Beberapa penyantun rutin antaralain Ny Aty Widagdo isteri mantan Walikotamadya Yogyakarta dan Ny Ahmad Suyudi isteri mantan Direktur RSUP Dr Sardjito.

Kiprah Nyadi akhirnya didengar pejabat Dinas Kesejahteraan Sosial DIY. Tahun 1998 ia ditawari Tuti Purwanti, pejabat di Dinkesos, untuk mengelola rumah singgah.

Tapi tak langsung diterima. Tawaran kedua pun ditolaknya. Baru tawaran ke tiga ia minta waktu seminggu untuk berpikir.

“Menangani anak jalanan itu lebih sulit. Kalau hanya menyantuni anak dari keluarga kurang mampu, relatif lebih mudah. Masalah utamanya biaya pendidikan. Tinggal kita beri subsidi. Sedangkan soal pembinaan, masih ditangani keluarga dan masjid di sekitar mereka,” kata Nyadi.

Nyadi sempat konsultasi pada H Syukri Fadholi dan Sukedi yang ketika itu menjabat ketua dan wakil ketua DPRD Kota Yogya. Keduanya mendukung, dan bahkan sanggup membantu bila suatu saat ada masalah.

Setelah itu dikelolanyalah Rumah Singgah Anak Mandiri di seputaran Terminal Umbulharjo.



***

SAAT
ini, kiprah Nyadi bernaung di bawah Yayasan insan Mandiri. Mengelola dua rumah singgah di Yogya dan Bantul, satu panti serta memberi beasiswa anak-anak dari keluarga kurang mampu di seputaran kampung Badran. Di rumah singgah kota, ada 100 anak binaan yang bersekolah di SD-SLTA. Rumah singgah Bantul, punya 82 anak binaan sekolah di SD-SLTA, 80 anak dari keluarga kurang mampu di SD Badran 1 dan 2, serta sebagian lagi tinggal di panti.

Menurut Nyadi, anak yang tinggal di Panti merupakan hasil seleksi selama pembinaan di rumah singgah. Hanya anak jalanan yang dinilai bisa beradaptasi dan siap kembali ke keluarga yang ditampung di panti.

Dana pendampingan bersumber dari dinas kesejahteraan sosial, baik tingkat satu maupun dua. Setahun menurut Nyadi, lembaganya menyalurkan dana sekitar Rp 300 juta untuk anak telantar.

***

MENIKAH
tahun 1989 dengan Sri Hardini. Isterinya kerja menjadi asisten apoteker di RS Bethesda. Dikarunian dua anak. Tapi, dengan pertimbangan mengasuh serta mendampingi anak, isterinya diminta pensiun dini.

Sebagai relawan anak jalanan, Nyadi prihatin mendengar ada sekelompok LSM yang menyatakan bahwa hidup di jalan itu hak. “Mereka tidak sadar, bahwa anak jalanan merugikan semua pihak. Mengganggu lalu lintas, di samping bagi anak jalanan sendiri, kesehatan mereka bisa terganggu,” paparnya.

Nyadi punya obsesi, nantinya tak akan ada lagi anak-anak turun ke jalan. Mereka harus mendapat perhatian, bimbingan dan kasih sayang untuk menyongsong masa depan yang cemerlang.

Wawancara:

Daryanto Widagdo

Artikel Lainnya
DIDIK NINI THOWOK 50 TAHUN, Pentas Bersama Cina, Jepang, India
Prima Oktaviani
Nyadi Karmorejo Penerima Award Itu Pernah Jadi Pembantu Rumah tangga dan Kuli Bangunan
2004, Tahun Sulit Ketenagakerjaan
Merebak, di RSUP-Swasta ”Bengkel Seks”
Neurotheraphy-Ramuan Alami-Wiridan ”Temuan Ini, Silakan Diujicoba”
Trekahan di Kudus Ruwatan Tanpa Wayang
Wajah perempuan Itu Seperti Tak Berbentuk
”Mau Jadi Lurah? Siapkan Rp 1 Miliar”
Sarah Azhari Tarif Rp 1 Juta
Sakitnya Hidup Bersama Akibat Kawin Paksa
Tahun 2004 dan Ancaman Virus Syahwat
Maurits Charles S, Rohaniawan
Damai!
‘Sole et Sale....’
SERIKAT PEKERJA RUMAH TANGGA DIY
Membaca Cerpen (Lama) Nh Dini
Tim Sukses Mereka yang Dituduh Bermasalah
Sukses dengan Bahasa Tubuh
Dihajar Mark Bosnich Sophie Ngumpet ke LA
Ban Mobil Gembos, Uang Rp 40 Juta Amblas
Gerabah Pundong Siap Bersaing
Stres di Tempat kerja, Bagaimana Solusinya?
Mengatasi Asam Urat Menahun Oleh Sinshe Wang
SIKLUS LIMA TAHUN PERKAWINAN Dari Malu-malu Hingga Memalukan

Login/Daftar | 0 Komentar |
Komentar adalah properti pengirimnya. Kami tidak bertanggung jawab atas isinya.

Copyright © 2000 by Minggu Pagi Online