TERKEJUT Nyadi, begitu diundang menerima penghargaan dari Sido Muncul.
Perusahaan jamu itu memberinya penghargaan sebagai pengabdi anak telantar.
Award Sido Muncul ini serius. Dewan Penilainya tidak main-main : Mohamad Sobary,
Romo Sandyawan, dan mantan Kapolri Anton Sujarwo.
“Dulu saya senasib dengan anak-anak telantar yang sekarang saya abdi. Ini yang
membuat saya terpanggil ingin membantu mereka” kata pria kelahiran Randublatung
Grobogan 25 Februari 1960, anak kedua dari tiga bersaudara, dilahirkan dari
keluarga petani miskin, yang untuk biaya sekolah sejak SD harus menjadi pembantu
rumah tangga.
“Menjadi orang miskin itu sangat tidak enak. Kelas II SD ketika saya pulang ke
rumah nenek di Blora sambil membawa ayam jago blorok, pernah dituduh mencuri
ayam Pak Lurah yang kebetulan juga blorok” cerita Nyadi. “Saya sempat diseret ke
rumah Pak Lurah. Untung, ayam yang saya bawa masih hidup. Lalu saya tunjukkan
kepada Pak Lurah. Ternyata, ayam Pak Lurah yang hilang itu betina. Saya dilepas,
tapi tetap saja saya malu dan sangat sakit....”
***
MESKI nyambi sebagai pembantu rumah tangga, Nyadi kecil bersemangat sekolah.
Saat lulus SD ia Siswa Teladan Tingkat Kecamatan. Tapi setelah itu ia pusing
sendiri. Orangtuanya tak mampu membiayainya ke SMP. Majikannya juga menolak,
dengan alasan “bagaimana dengan tugas rumah kalau kamu sekolah?”. Lalu, Nyadi
pun jualan koran dan majalah. Pagi-pagi benar diambilnya dagangan di stasiun.
Lalu ia berangkat ke sekolah. Baru setelah pulang, koran dikelilingkannya ke
pelanggan.
Semakin yakinlah dia, bahwa jika ada kemauan, pasti jalan pun terbentang.
SMA dilanjutkannya ke Yogya. Masuk SMA Bopkri 3. Sekolahnya siang, maka pagi ia
bisa bekerja. Menjadi kuli bangunan. Lalu malamnya jadi penjaga malam di sebuah
klinik kesehatan di Kemetiran. “Sambil jaga malam itu, saya belajar. Dan, bisa
kok. Bahkan di sekolah saya jadi Sekretaris OSIS” kata Nyadi,
Menangani Anak Jalanan Itu Sulit
Obsesinya : Tak Ada Lagi Anak yang Turun ke Jalan
Tidak Setuju Pendapat Bahwa Hidup di Jalan Itu Hak
Karena Anak Jalanan Itu Mengganggu Banyak Pihak
Dan Kehidupan Jalanan Tak Baik bagi Kesehatan Mereka
MANTAN ‘anak telantar’ itu kini membantu anak-anak telantar. Bukan
main perjalanan hidup Nyadi Karmorejo. SD sambil jadi PRT. SMP sambil jual koran.
SMU sambil jadi kuli bangunan dan jaga malam. Tapi Nyadi sempat kuliah di dua
perguruan tinggi : STIE Gama dan STIAI Masjid Syuhada. Sayang tak lulus. Dan
sejak 1990, ia terpanggil untuk ikut menangani masalah pendidikan anak-anak dari
keluarga kurang mampu. Dimulainya dari sekitar rumah kontrakannya, Nologaten
Caturtunggal.
Pernah bekerja sebagai reporter sebuah harian di Yogya. Dari kerjanya itu ia
punya banyak relasi dermawan. Uang dermawan inilah yang dikelola Nyadi, untuk
membantu beaya pendidikan 40 anak dari keluarga miskin. Beberapa penyantun rutin
antaralain Ny Aty Widagdo isteri mantan Walikotamadya Yogyakarta dan Ny Ahmad
Suyudi isteri mantan Direktur RSUP Dr Sardjito.
Kiprah Nyadi akhirnya didengar pejabat Dinas Kesejahteraan Sosial DIY. Tahun
1998 ia ditawari Tuti Purwanti, pejabat di Dinkesos, untuk mengelola rumah
singgah.
Tapi tak langsung diterima. Tawaran kedua pun ditolaknya. Baru tawaran ke tiga
ia minta waktu seminggu untuk berpikir.
“Menangani anak jalanan itu lebih sulit. Kalau hanya menyantuni anak dari
keluarga kurang mampu, relatif lebih mudah. Masalah utamanya biaya pendidikan.
Tinggal kita beri subsidi. Sedangkan soal pembinaan, masih ditangani keluarga
dan masjid di sekitar mereka,” kata Nyadi.
Nyadi sempat konsultasi pada H Syukri Fadholi dan Sukedi yang ketika itu
menjabat ketua dan wakil ketua DPRD Kota Yogya. Keduanya mendukung, dan bahkan
sanggup membantu bila suatu saat ada masalah.
Setelah itu dikelolanyalah Rumah Singgah Anak Mandiri di seputaran Terminal
Umbulharjo.
***
SAAT ini, kiprah Nyadi bernaung di bawah Yayasan insan Mandiri. Mengelola
dua rumah singgah di Yogya dan Bantul, satu panti serta memberi beasiswa
anak-anak dari keluarga kurang mampu di seputaran kampung Badran. Di rumah
singgah kota, ada 100 anak binaan yang bersekolah di SD-SLTA. Rumah singgah
Bantul, punya 82 anak binaan sekolah di SD-SLTA, 80 anak dari keluarga kurang
mampu di SD Badran 1 dan 2, serta sebagian lagi tinggal di panti.
Menurut Nyadi, anak yang tinggal di Panti merupakan hasil seleksi selama
pembinaan di rumah singgah. Hanya anak jalanan yang dinilai bisa beradaptasi dan
siap kembali ke keluarga yang ditampung di panti.
Dana pendampingan bersumber dari dinas kesejahteraan sosial, baik tingkat satu
maupun dua. Setahun menurut Nyadi, lembaganya menyalurkan dana sekitar Rp 300
juta untuk anak telantar.
***
MENIKAH tahun 1989 dengan Sri Hardini. Isterinya kerja menjadi asisten
apoteker di RS Bethesda. Dikarunian dua anak. Tapi, dengan pertimbangan mengasuh
serta mendampingi anak, isterinya diminta pensiun dini.
Sebagai relawan anak jalanan, Nyadi prihatin mendengar ada sekelompok LSM yang
menyatakan bahwa hidup di jalan itu hak. “Mereka tidak sadar, bahwa anak jalanan
merugikan semua pihak. Mengganggu lalu lintas, di samping bagi anak jalanan
sendiri, kesehatan mereka bisa terganggu,” paparnya.
Nyadi punya obsesi, nantinya tak akan ada lagi anak-anak turun ke jalan. Mereka
harus mendapat perhatian, bimbingan dan kasih sayang untuk menyongsong masa
depan yang cemerlang.
Wawancara:
Daryanto Widagdo