Warning: setlocale() [function.setlocale]: Passing locale category name as string is deprecated. Use the LC_* -constants instead. in /opt/lampp/htdocs/kr/mp/mainfile.php on line 496
Minggu Pagi Online
Melihat Kampung Santri di Yogyakarta , (Kampung Santri, Tatanan dari Tepi Sejarah, Muhammad Fuad Riyadi, Ittaqa Press, Yogyak
Tanggal: Saturday, 08 September 2001 15:39
Topik: No 22 TH 54 Minggu I September 2001


YOGYAKARTA, ternyata memiliki kekayaan yang tersembunyi, yakni kampung santri. Bukan hanya dikenal sebagai kota wisata, tetapi bila kampung-kampung santri itu dijadikan objek wisata, seakan menciptakan nilai tambah tersendiri bagi Yogyakarta. Selama ini, barangkali tak banyak orang memperhatikan, sehingga kampung-kampung santri itu tak pernah menyentuh kita. Mungkin tidak bagi Muhammad Fuad Riyadi, yang kebetulan pernah menjadi wartawan, punya kesempatan untuk melacak lebih jauh. Melalui bukunya ini, kita temukan kampung-kampung yang bisa diceritakan dari sisi itu. Sekaligus sebuah informasi menarik, karena tiap kampung itu memiliki keunikan dan spesifikasinya.

Kotagede atau Mlangi, misalnya, bisa diceritakan dari sisi keberadaan santri yang usianya hampir seumur dengan Keraton Yogyakarta, pecahan dari Mataram. Ini memang luar biasa. Dari Kotagede pun lahir tokoh-tokoh nasional, misalnya KH Abdul Kahar Muzakir (penanda tangan Piagam Jakarta), HM Rasyidi (Menteri Agama pertama), Djalal Muchsin yang dokter spesialis di Belanda, yang tentu saja mengharumkan nama Kotagede sendiri. Sedang Mlangi, masih berjaya soal persantrian, dilihat dari masih ada delapan pondok pesantren yang berskala besar. Keunikan kampung ini, di satu sisi menegakkan tradisi, di sisi lain masih mengunyah modernisasi. Dalam skala mini, mirip Jepang.
Selain Kotagede dan Mlangi, buku ini juga menampilkan kampung lain. Misalnya Wonokromo, Kauman, Dongkelan, Ploso Kuning, Wotgaleh, dan Karangkajen. Bila kampung-kampung ini dikelola dengan bagus, bisa saja diusulkan sebagai objek wisata kultural spiritual yang menarik. Melacak peninggalan masa lalu di tengah hiruk-pikuk tumbuhnya kota baru. Sebab, ada kesan setiap memasuki perkampungan santri serasa hati dibelai mimpi. Indah, tenteram, aman, adem ayem, dan terasa sumeleh. Karena itu, benar begitukah bila jalur dari Kotagede sampai Nitikan ini dibentang?
Buku yang ditulis Muhammad Fuad Riyadi, yang diberi pengantar Dr Damardjati Supadjar, tentunya sangat menarik sebagai kajian awal sebelum, misalnya kita tertarik mengkaji lebih jauh mengenai kampung-kampung santri itu. Bukankah dengan menyebut nama Kotagede, kita lantas bisa menghubungkan dengan ibukota kerajaan Islam, yang sampai saat ini masih terjaga. Belum lagi dengan Kauman, yang bisa dihubungkan dengan Qaimudin (bahasa Arab), yang artinya kampung para penegak agama. Kaitan kesejarahannya sangat kuat dengan Yogyakarta. Sebab, setelah Masjid Agung Keraton Yogyakarta selesai dibangun, sekitar 1755, untuk memakmurkan wilayah tersebut para ulama ditempatkan di kawasan itu. Jadilah istilah Kauman ini. Yakni sebuah wilayah yang dihuni para kaum atau para ulama. 
(Arwan)





Artikel ini diambilkan dari situs Minggu Pagi Online
http://www.minggupagi.com

URL artikel ini adalah:
http://www.minggupagi.com/article.php?sid=670