| |
Jual |
Beli |
| SGD |
6674.15 |
6545.15 |
| USD |
9480.00 |
9330.00 |
|
 |
|
|
 |
|
 |
| sayap-sayap yang terkembang |
 |
|
|
|
|
|
 |
|
| >>Rubrikasi
|
| MUNCUL ALAT CANGGIH DMI; Membidik Potensi Melalui Sidik Jari |
 |
| 30/04/2008 05:29:02 BERBAGAI cara dilakukan untuk mengenali dan memahami potensi manusia. Berbicara mengenai potensi, kita juga berbicara mengenai kecerdasan dan otak. Bagaimana kecerdasan yang kita miliki dan bagaimana fungsi-fungsi dominan otak kita. Begitu banyak penelitian dan pengembangan dilakukan guna membantu manusia dalam menghadapi semakin tingginya tuntutan dalam persaingan kehidupan ini. Berbagai cara dilakukan untuk mengembangkan diri dan meraih prestasi. Seberapa sering kita melihat orangtua yang mencemaskan anak-anaknya yang dianggapnya kurang termotivasi untuk belajar, seberapa sering kita melihat seorang remaja kurang mampu memahami dan mengarahkan proses pengembangan dirinya dan seberapa sering kita melihat kesulitan berkomunikasi antara orangtua dan anak. Menjadi hal yang sangat wajar, ketika orangtua menjadi cemas dalam memahami dan mengarahkan anak-anaknya. Memahami potensi diri menjadi kunci dalam proses pengembangan dan pencapaian prestasi. Setiap anak memiliki potensi dan kemampuan yang tidak sama. Dengan kemajuan teknologi saat ini, kita mampu memahami potensi diri kita dan anak-anak kita, bagaimana distribusi kecerdasan yang dimiliki, hanya melalui sidik jari atau Dermatoglyphics. Nurmey Nurulchaq SPsi, Psikolog, Koordinator Konsultan DMI-Primagama menjelaskan, Dermatoglyphics adalah ilmu tentang bentuk atau pola sidik jari. Penelitian tentang sidik jari ini telah dilakukan selama 200 tahun lebih. Sidik jari memiliki bentuk yang tetap, tidak akan mengalami perubahan dan berbeda antara individu yang satu dengan individu yang lain. Kemungkinan adanya bentuk sidik jari yang sama memiliki perbandingan 1: 64. 000.000.000. Sejak saat itu, penelitian Dermatoglyphics semakin banyak dilakukan oleh orang-orang kedokteran dan salah satu dari penelitian yang dilakukan terhadap anak-anak Down Syndrome ini menunjukkan adanya perbedaan bentuk atau pola sidik jari antara anak-anak Down Syndrome dan anak-anak normal. Hasil dari penelitian ini, mendorong para pendidik untuk melihat hubungan antara distribusi sidik jari dengan distribusi potensi kecerdasan. Ada tiga kelompok utama bentuk sidik jari, yaitu arches, loops dan whorls. Pada penelitian yang dilakukan pada anak-anak yang mengalami Down Syndrome, menunjukkan banyaknya bentuk ulnar loops (terutama di jari telunjuk), radial loops pada jari manis dan jari telunjuk.Adanya loops antara jari telunjuk dengan jari tengah atau jari tengah dengan jari manis dan beberapa perbedaan lain yang dapat dilihat antara anak-anak Down Syndrome dan anak-anak normal. (Rsv)-s Perkembangan sidik jari yang sejalan dengan perkembangan sel-sel otak pada masa janin, memungkinkan dilakukannya penelitian dan diketahuinya fungsi-fungsi kerja otak kanan dan kiri melalui sidik jari setelah proses kelahiran. Profesor Howard Gardner dari Universitas Harvard, pada tahun 1983, mengemukakan teori tentang kecerdasan majemuk. Ia mengatakan bahwa kecerdasan merupakan potensi yang terdistribusi ke dalam delapan kapasitas intelektual, yaitu Kecerdasan Logika Matematika, Kecerdasan Bahasa, Kecerdasan Intrapersonal, Kecerdasan Interpersonal, Kecerasan Kinestetis Jasmani, Kecerdasan Visual Ruang, Kecerdasan Musikal. dan Kecerdasan Naturalis. Perlu dipahami bahwa semua anak yang memiliki kecerdasan musikalitas yang tinggi, juga akan memiliki kemampuan bernyanyi. Karena bisa jadi, kecerdasan ini berhubungan dengan motoriknya atau fungsi kinestetisnya sehingga membantunya untuk lebih berprestasi dalam bermain piano atau gitar. Pemahaman akan potensi inilah yang sebaiknya dimiliki oleh orang tua dan pendidik. Ketidaktahuan akan potensi anak atau siswa seringkali disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan atau pemahaman akan otak dan fungsi-fungsinya, adanya distribusi potensi kecerdasan yang dapat dimanfaatkan untuk meraih prestasi sesuai dengan potensi yang dimiliki anak, keterbatasan akan pemahaman karakter komunikasi belajar dan obsesi yang seringkali dipaksakan oleh orang tua terhadap anak. Berdasarkan pada latar belakang inilah, muncul Dermatoglyphics Multiple Intelligence (DMI) Assessment. Asesmen yang dilakukannya dapat digunakan untuk mengetahui potensi instrinsik seseorang, pemahaman akan dominasi otak kanan atau kiri dalam setiap pengambilan keputusan , disribusi kecerdasan majemuk, karakteristik komunikasi belajar, dan kepekaan belajar. Program asesmen DMI dikembangkan berdasarkan data-data statistic yang didapatkan dari penelitian-penelitian medis dan observasi mendalam di area Dermatoglyphics (sidik jari) yang kemudian dihubungkan dengan teori kecerdasan majemuk dari Prof Howard Gardner dan teori otak kanan-kiri Prof Roger W Sperry. Akurasi yang telah ditunjukkan oleh alat ini telah memberikan kepuasan kepada mereka yang pernah dites, dari usia anak-anak sampai orang dewasa. Asesmen DMI merupakan suatu tes untuk mendeteksi potensi diri. Tidak hanya dominasi otak kanan dan kiri dan distribusi kecerdasan majemuk saja, tetapi juga karakter komunikasi belajar dan kepekaan belajar anak. Karena merupakan bagian dari suatu tes, maka perlu adanya konsultasi sebagai follow up setelah pelaksanaan tes ini. Disinilah, orang tua akan diajak untuk tidak hanya mengetahui tetapi juga memahami dan melaksanakan hasil dari tes DMI. "Melalui tes DMI ini, kita akan mampu memahami potensi diri kita, anak atau siswa kita sehingga kita akan mampu memberikan lingkungan terbaik dalam proses mengarahkan potensi itu mencapai prestasi yang cemerlang," tambahnya.. Pemahaman tes DMI ini diawali dengan pemahaman bahwa setiap anak memiliki potensi, perbedaan dalam kemampuan belajar, gaya belajar dan distribusi kecerdasan. Dengan memahami perbedaan ini, maka orang tua akan mampu memberikan lingkungan terbaik untuk perkembangan anak-anaknya, sehingga prestasi akan lebih mudah diraih. Karena potensi hanya sekedar menjadi potensi jika tidak dimanifestasikan menjadi prestasi. Demikian juga pencapaian prestasi diluar potensi yang dimiliki akan membutuhkan usaha dan waktu yang lebih lama. Dengan memahami potensi, prestasi akan lebih mudah diraih.Pemahaman tentang otak kanan dan kiri akan memberikan gambaran dominasi otak kita. Dalam laporan DMI, otak kanan dan kiri ditunjukkan dengan menggunakan prosentase. Perbedaan prosentase yang dapat diterima adalah 4%. Perbedaan yang lebih besar akan sangat tampak pada proses pengambilan keputusan. Karena itu, orang tua perlu ikut mengarahkan anak-anak dengan langkah-langkah yang diperlukan. Tentu saja, komunikasi efektif menjadi syarat yang tidak dapat diabaikan ketika orang tua menyampaikan bimbingan atau arahan kepada anak-anaknya. Tes DMI merupakan suatu usaha yang memberikan kesempatan kepada kita, untuk lebih mengenali potensi. Dengan tes dan konsultasi yang intensif, proses pengembangan diri hingga tercapainya prestasi menjadi lebih pasti. Potensi ada di sidik jari kita, pelaksanaannya ada di tangan kita. (Rsv)-x |
|
 |
|
|
 |
|