| |
Jual |
Beli |
| SGD |
6674.15 |
6545.15 |
| USD |
9480.00 |
9330.00 |
|
 |
|
|
 |
|
 |
| sayap-sayap yang terkembang |
 |
|
|
|
|
|
 |
|
| >>Berita Utama (Hlm Luar)
|
| Pemerintah Tak Jamin Kenaikan Harga yang Terakhir; Premium Rp 6.000, 'Minah' Rp 2.500 |
 |
| 24/05/2008 10:47:28 JAKARTA (KR) - Kendati banyak protes dan aksi unjukrasa, namun pemerintah tetap kukuh pada kebijakannya menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Terhitung mulai hari Sabtu, 24 Mei 2008, pukul 00.00, harga BBM mengalami kenaikan sebesar 28,7 persen. Untuk harga minyak tanah (minah) yang semula Rp 2.000 naik menjadi Rp 2.500. Sedangkan Premium yang semula Rp 4.500 menjadi Rp 6.000 dan solar yang semula Rp 4.300 menjadi Rp 5.000. Penetapan keputusan pemerintah menaikkan harga BBM ini disampaikan oleh Menteri Pertambangan dan Energi, Purnomo Yosgiantoro. Selain itu, juga disampaikan penjelasan alasan terkait dengan kenaikan BBM, termasuk masalah penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT), oleh Menkeu, Menko Kesra, Mensos. Terkait dengan keputusan pemerintah ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan siap tidak populer, karena ingin menjaga agar perekonomian negara tetap dalam kondisi yang mantap. ”Presiden menaikkan harga BBM merupakan risiko politik yang harus diambil. Beliau lebih merisikokan karier dan popularitas politiknya, yang lebih penting menyelamatkan ekonomi negara,” tegas Jubir presiden Andi A Mallarangeng seusai menerima delapan orang perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) di kantornya eks gedung Bina Graha Kompleks Istana Presiden Jakarta, Jumat (23/5). Presiden sesungguhnya tidak berkeinginan untuk menaikkan harga BBM, namun karena harga minyak dunia telah mencapai 135 dolar AS per barel, terpaksa menaikkan harga BBM tetapi terbatas. ”Bagaimana kalau harga minyak naik terus. Sekarang saja sudah 135 dolar, bahkan ada yang bilang nanti mencapai 150 dolar. Kalau naik terus, terpaksa menaikkan harga BBM, tapi terbatas,” papar Andi. Kepada kelompok masyarakat yang paling terkena dampak tingginya harga BBM ini, pemerintah menyiapkan kompensasi dalam bentuk Bantuan Langsung Tunai (BLT). ”Bantuan Langsung Tunai ini disiapkan dulu, baru kita naikkan harga BBM,” tambahnya lagi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Jumat malam pukul 19.00 WIB menggelar rapat kabinet terbatas di ruang rapat utama gedung Sekretariat Negara, Jakarta. Agenda yang dibicarakan berkaitan dengan program penyaluran BLT dan rencana kenaikan harga BBM bersubsidi. Sementara itu Wapres Jusuf Kalla menyatakan pemerintahan SBY-JK memang lebih memilih memperbaiki ekonomi negara dengan mengorbankan popularitas. ”Namanya kepemimpinan, jadi lebih baik kita korbankan popularitas daripada korbankan ekonomi. SBY-JK lebih memilih mengorbankan popularitas tapi memilih perbaiki ekonomi,” tegas Wapres Jusuf Kalla di Istana Wapres. Kenaikan harga BBM yang kini diprotes masyarakat di berbagai daerah, menurut Wapres, tampaknya tidak hanya berhenti sampai disini saja. ”Pemerintah tidak bisa menjamin bahwa kenaikan harga BBM bulan ini adalah yang terakhir,” katanya. Sebelum pengumuman kenaikan harga BBM secara resmi oleh pemerintah, terjadi antrean yang panjang di hampir semua SPBU di berbagai daerah. Antrean terjadi sejak siang hari dan memuncak pada malam hari. Bahkan sejumlah jalan di sekitar SPBU terjadi kemacetan karena halaman di SPBU tak mampu menampung antrean kendaraan roda empat maupun roda dua. Di Klaten, misalnya, pengamanan SPBU dilakukan secara ketat. Setiap SPBU rata-rata dijaga oleh dua anggota Polsek jajaran Polres Klaten, untuk melakukan antisipasi. Bahkan di beberapa SPBU sempat terjadi kekosongan premium hampir sekitar lima jam, yakni sejak pukul 11.00 dan baru dipasok kembali sekitar pukul 16.00. Menjelang pengumuman kenaikan harga BBM, ribuan warga pemilik kendaraan bermotor di Kabupaten Banyumas mengantre pada sejumlah SPBU di kota Purwokerto dan sekitarnya. Antrean mulai terlihat sejak pukul 18.30 dan terus bertambah hingga malam. Berdasarkan pengamatan KR, antrean pada sejumlah SPBU didominasi oleh kendaraan roda dua dan empat berplat hitam atau pribadi, serta sebagian kecil angkutan umum. Meski demikian, tampak sejumlah warga yang membeli bahan bakar jenis premium dengan menggunakan jerigen. Sopir angkutan umum pedesaan jurusan Banjarsari-Pasar Wage, Warsino mengungkapkan, ia terpaksa ikut mengantre lantaran itu merupakan kesempatan terakhirnya mendapatkan BBM dengan harga lama. Untuk mendapatkan BBM, ia terpaksa mengantre hingga setengah jam. Pasca lonjakan BBM ia berencana menaikan biaya angkutan menjadi sekitar Rp 4.500 dari sebelumnya Rp 3.500. Direktur Utama SPBU Jalan Overste Isdiman (Ovis) Purwokerto, Bambang Eko mengatakan, antrean konsumen BBM melonjak lebih seratus persen dibandingkan hari biasa. Namun, meski terjadi lonjakan konsumen, SPBU-nya tidak mendapat pasokan tambahan dari Pertamina. Manajer SPBU Jalan Pahlawan Kelurahan Tanjung, Purwokerto Selatan, Edi Kustanto menuturkan, kenaikan konsumen 60 - 70 persen dari jumlah normal juga terjadi pada depot pengisian milih perusahaannya. Sementara itu, Kapolsek Purwokerto Timur, AKP Isfa Indarto mengutarakan, untuk menjaga keamanan dan ketertiban pada SPBU, ia menerjunkan sejumlah petugas berseragam dan preman. ”Kami sudah menurunkan sejumlah petugas untuk mengamankan dua SPBU yang ada di wilayah kerja Polsek Purwokerto Timur, sejauh ini kondisi antrean warga masih kondusif,” paparnya. Antrean kendaraan juga terjadi di sejumlah SPBU di wilayah Boyolali sejak pukul 18.00. Di beberapa lokasi SPBU, para pembeli BBM tidak lagi membeli dalam bentuk literan tapi dalam bentuk rupiah. ”Biasanya kalau diisi Rp 40 ribu tanki sudah penuh,” kata Dani (25) yang mengantre di SPBU Teras dengan menggunakan sepedamotor. Di lokasi SPBU ini kendaraan paling banyak yang antre adalah sepeda motor, namun untuk kendaraan roda empat juga sangat banyak antara lain kendaraan pribadi dan kendaraan niaga. (Rsv/Lmg/Mgn/Ful/Sim/Imd/Dis/*-1/Sit)-a |
|
 |
|
|
 |
|