| |
Jual |
Beli |
| SGD |
6674.15 |
6545.15 |
| USD |
9480.00 |
9330.00 |
|
 |
|
|
 |
|
 |
| sayap-sayap yang terkembang |
 |
|
|
|
|
|
 |
|
| >>Berita Utama (Hlm Luar)
|
| REKTOR UMY MENGUNDURKAN DIRI ; PP Muhammadiyah Belum Bersikap |
 |
20/06/2008 08:20:00 YOGYA (KR) - Merasa bertanggung jawab atas kasus Banyugeni, Rektor UMY Dr Khoiruddin Bashori akhirnya memilih mundur dari jabatannya. Surat pengunduran diri telah dilayangkan ke PP Muhammadiyah dengan tembusan di antaranya kepada Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah, pada Selasa (17/6) lalu. Namun hingga saat ini, PP Muhammadiyah belum bersikap terhadap pengunduran diri ini, apakah akan dikabulkan atau ditolak. ”Dengan pelbagai pertimbangan yang ada, bisa saja pengunduran diri Saudara Khoiruddin itu ditolak,” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Din Syamsuddin ketika dihubungi KR melalui telepon, Jumat (19/6). Prof Din Syamsuddin sendiri mengaku terkejut dengan langkah Rektor UMY mengundurkan diri. ”Saya kaget dengan pengunduran diri Rektor UMY. Tetapi saya belum melihat suratnya dan hanya mendapat pemberitahuan via SMS,” katanya. Din menyebutkan, jika masalahnya memang terkait dengan Banyugeni dan dapat diselesaikan dengan baik dalam arti ada pertanggungjawaban/penjelasan kepada pihak-pihak terkait dalam arti BPH (Badan Pelaksana Harian), sebenarnya dapat dicari jalan keluarnya. Namun katanya, sekarang sudah ada pengunduran diri. ”Dengan ada pernyataan mundur itu, mungkin bisa diagendakan dalam sidang pleno PP,” katanya. Sidang pleno PP Muhammadiyah akan digelar Minggu (22/6) lusa di Jakarta. Tetapi katanya, itu merupakan pleno rutin dan persoalan pengunduran diri Rektor UMY belum diagendakan. Namun, sikap menghadapi hal itu juga bisa segera dilakukan. Menyinggung keterkaitan Dr Khoiruddin sebagai Ketua Panitia Muktamar Seabad Muhammadiyah di Yogyakarta pada 2010 mendatang, menurut Din hal itu seharusnya tidak dikaitkan. Mengingat keduanya terpisah dan berbeda. Sebagai pribadi, jelasnya, Dr Khoiruddin adalah salah satu tokoh muda Muhammadiyah dan juga merupakan tokoh andalan, mantan ketua umum organisasi otonom di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah. ”Menjadi ketua muktamar itu yang mengangkat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY. Tetapi menurut hemat saya, hal itu tidak harus dikaitkan. Apalagi Mas Irud (sebutan Dr Khoiruddin) juga tidak mundur dari kepanitiaan dalam muktamar,” tegas Din Syamsuddin. Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Dr Chairil Anwar juga menjelaskan, meski sudah melayangkan surat pengunduran diri, namun keputusan diterima tidaknya tetap ada pada PP Muhammadiyah. Dan ini, katanya, akan dibicarakan lewat rapat pleno PP di Jakarta. ”Jika disetujui, maka kemudian disebut rektor tersebut akan dinyatakan berhalangan tetap dan selanjutnya Badan Pelaksana Harian (BPH) bersama PWM DIY akan mengajukan caretaker. Caretaker inilah yang akan membuat rapat Senat untuk mengajukan pemilihan. Caretaker bisa dipilih kembali namun bisa juga yang lain,” jelas Chairil. Soal rektor sebuah Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) jelas Chairil, sepenuhnya wewenang dan hak mutlak PP Muhammadiyah. Dalam kasus ini, tambahnya, Majelis Diktilitbang hanya memberikan rekomendasi ke PP. ”Salah satu catatan penting adalah meminta penelitian itu dihentikan atas nama Muhammadiyah,” tambah Chairil yang enggan membeberkan catatan lain, dengan alasan tidak mau menengok ke belakang. Sementara itu Dr Khoiruddin saat ini masih menjalankan tugas-tugas sebagai Rektor UMY. Kamis (19/6) pagi bersama Bendahara PP Muhammadiyah Prof Dr Zamroni dan Sekretaris PP Muhammadiyah Dahlan Rais MHum, ia menerima tamu Penasihat Menhan Thailand. Juga membuka refreshing bagi Dosen UMY di Wanagama Gunungkidul. Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Dr Chairil Anwar dan Kepala Divisi Humas UMY Twediana B Hapsari MSi secara terpisah Kamis (19/6) membenarkan informasi bahwa Pak Irud, panggilan Dr Khoiruddin, sudah melayangkan surat pengunduran diri sebagai Rektor UMY. Menurut Chairil, di antara alasan yang dikemukakan dalam surat dan membuatnya mundur adalah ”karena situasi tidak nyaman”. Meski demikian, saat KR mau melakukan konfirmasi ke Rektor UMY, ponselnya ‘dibiarkan’ bernada panggil namun tidak mau menerima telepon. Berita rencana mundurnya Rektor UMY sudah muncul menyusul tercuatnya kasus Banyugeni. Bahkan sebelumnya sempat muncul wacana akan di-impeach. Namun ketika dikonfirmasi ke Chairil, ia menyebut tidak sampai sejauh itu. Kepala BHK UMY Ahmar Ma’ruf secara terpisah juga menyatakan tidak adanya tekanan pada Rektor UMY untuk mengundurkan diri. Sehingga keputusan mengundurkan diri ini menurutnya murni keinginan pribadinya. ”Saya menilai, Rektor UMY sudah memulai sesuatu yang baik, bertanggung jawab,” tandas Chairil. Meski mungkin hal itu menurutnya pastilah tidak lepas dari situasi di UMY yang sudah tidak kondusif akibat dari pemberitaan Banyugeni dan generator yang luar biasa dan kontroversial. (Fsy)-z |
|
 |
|
|
 |
|