| |
Jual |
Beli |
| SGD |
6674.15 |
6545.15 |
| USD |
9480.00 |
9330.00 |
|
 |
|
|
 |
|
 |
| sayap-sayap yang terkembang |
 |
|
|
|
|
|
 |
|
| >>Rubrikasi
|
| JOGJA BLACKBERRY COMMUNITY; Tanpa ’BB’ bagai Hidup Tak Bernyawa |
 |
20/12/2008 06:01:23 “Seperti hidup tanpa nyawa,” terucap dari mulut Nina ketika menceritakan pengalaman setelah handset Blackberrynya atau biasa disebut ‘BB’ hilang beberapa waktu lalu. Pungkas lain lagi. Setelah memakai Blackberry, ia mengaku tak mempunyai alasan untuk tak bisa dihubungi. Saking asyiknya bercengkerama dengan Blackberry, ia menjadi sering terlewat ketika antre, tengkuk bawah mulai sakit, justru girang ketika lampu lalu lintas berwarna merah dan mulai tak nyambung ketika mengobrol dengan teman. Ada puluhan alasan lain yang terlontar dari sekitar 30an anggota Jogja Blackberry Community (JBC) yang menggelar gathering di Gama Candi Resto, Senin lalu (15/12). “Semua yang hadir di sini kecanduan Blackberry,” kata Andre S Indrawan, pendiri JBC. Apa sih sebenarnya yang membuat orang sampai menjadi kecanduan dengan Blackberry? Piranti komunikasi yang ditawarkan produsen asal Kanada Research In Motion (RIM) pertama kali dikenalkan pada 1997 ini memang gadget luar biasa. Ia menyodorkan layanan push email tercepat dibandingkan perangkat komunikasi merek lainnya. Blackberry pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada pertengahan Desember 2004 oleh operator Indosat dan perusahaan Starhub dan kini dirambah PT Excelco-mindo dan Telkomsel. Dengan push e-mail semua e-mail bahkan ribuan pun dapat diteruskan langsung ke ponsel. E-mail juga sudah mengalami proses kompresi dan scan di server Blackberry sehingga aman dari virus. Lampiran file berupa dokumen Microsoft office dan PDF dapat dibuka dengan mudah. Untuk browsing internet data-data dari website sudah dikompresi sehingga lebih cepat dibuka dan biaya akses lebih murah. Fasilitas lain yang menjadi andalan Blackberry adalah pesan instan. Yahoo Messenger, Google Talk dan Skype kini telah menjadi rekanan Blackberry. Sistem langganan membuat layanan ini jauh lebih murah dan bisa melakukan push email, meng-update blogging, bahkan browsing berulang-ulang sampai bosen, tanpa khawatir dikirim tagihan, yang bikin jantung copot. Andre menceritakan, mayoritas pemilik Blackberry menggunakannya untuk chatting dan ber-Internet, khususnya untuk ber-SMS. “SMS-nya gratis dan bisa one-to-many dalam bentuk chatting. Keyboard-nya untuk ngetik enak. Kalau sudah pakai, pasti kecanduan,” katanya. Perbedaan Blackberry dengan handphone lain yakni tak user friendly alias pemiliknya membutuhkan banyak belajar dan eksplorasi lebih lanjut. Ini yang akhirnya mendasari dirikannya ‘JBC’ yang bermula dari milis pada 26 November lalu. Saat dibentuk, hanya sebagai tempat berkumpul bagi orang yang memiliki ketertarikan dengan Blackberry. Terutama memberikan bantuan kalau ada masalah terutama menyangkut perangkat Blackberry. “Lebih cepat jawaban di dapat dari milis, dari pada telepon ke customer service operator,” katanya. Untuk jumlah anggota, kini masih sekitar 30 orang tetapi email yang bergerak selama hampir sebulan sudah hampir 500 email. “Akhirnya kita memutuskan untuk mendirikan komunitas dan bertemu langsung,” katanya. Moderator milis ‘JBC’ di http://tech.groups.yahoo.com/group/jogjablackberry sekaligus owner Gama Candi Resto Christof Pranata benar-benar menuangkan waktunya dan memanjakan anggota komunitas. Ia juga yang mendukung diwujudkannya agenda kopi darat dan setia mengurusi email selama 24 jam. “Komunitas punya conference chatting 24 jam. Hingga pukul 3 pagi juga masih ada anggota yang aktif,” katanya. Christof mengatakan penggunaan Blackberry di Indonesia berbeda dibanding negara lain. Di luar negeri, Blackberry hanya untuk bekerja sementara di Indonesia lebih berfungsi sebagai bagian dari gaya hidup. Dari seluruh anggota komunitas, Andre mungkin yang terlama memanfaatkan fasilitas Blackberrry di komunitas. Andre mengenal Blackberry sekitar setahun lalu. Bukan ikut trend, ia merasakan pekerjaannya sebagai trading kaca dan pengurus milis Jogja Golf membutuhkan kecepatan pembuatan laporan, mengirim dan menerima laporan, dan surat penting. Ia bisa leluasa ketika berada di luar kota. Kegiatan anak buahnya cukup dipantau lewat Blackberry. “Filenya yang lebih kecil dengan sistem kompresi menjadi lebih hemat. Kehadiran BlackBerry menghemat waktu dan biaya,” tegasnya. Awalnya, Andre sempat bosan memakai Blackberry karena tak ada teman. Namun seiring booming Blackberry di Yogyakarta 3-4 bulan lalu membuatnya merasakan manfaat lebih. “Kita mau ketemu bisa langsung chat posisi di mana, tanpa batasan, gratis dan kapan saja. Membuat kita tetap keep in touch dengan teman-teman,” katanya. (M-4)-o |
|
 |
|
|
 |
|