| 21/03/2009 08:17:43 YOGYA (KR) - Pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris masih dianggap momok oleh sebagian siswa dalam ujian nasional (Unas) mendatang. Karena kedua mata pelajaran (Mapel) tersebut diindikasi menjadi salah satu penyebab dari ketidaklulusan. Untuk mengatasi persoalan itu sejumlah SMP dan SMA di Yogyakarta sengaja memberikan porsi lebih untuk menekan tingginya angka ketidaklulusan. Demikian dikatakan oleh beberapa Kepala Sekolah dan Waka Kurikulum SMP/SMA yang ditemui KR secara terpisah, Jumat (20/3). Waka kurikulum SMA 17 1 Suyadi SPd mengatakan, pelaksanaan Unas yang sudah semakin dekat memaksa sekolah untuk mengintensifkan pendalaman materi dan pendampingan pada siswa. Kenaikan standar rata-rata kelulusan dan jadwal Unas yang berdekatan dengan agenda kampanye menjadikan beban sekolah terasa lebih berat. Karena sekolah tidak hanya dituntut untuk memberikan materi yang terkait dengan Unas, tapi juga pengawasan agar siswa tidak terlibat dalam kampanye (konvoi). “Kemampuan siswa di SMA 17 1 cukup beragam dan butuh perhatian khusus dari guru.Kendati demikian dari hasil try out yang kami adakan hasilnya sudah bisa memenuhi standar kelulusan, kecuali Matematika, Bahasa Inggris dan IPA,” kata Suyadi pada KR. Suyadi menyatakan, untuk mengubah image siswa bahwa Mapel Matematika dan Bahasa Inggris sulit dan menakutkan. Sekolah sengaja memberikan kiat-kiat khusus, dengan harapan materi yang disampaikan lebih mudah dipahami. Dengan adanya kebijakan tersebut diharapkan siswa jadi lebih semangat dalam belajar, untuk memenuhi standar kelulusan. Sementara itu di SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta persiapan Unas sudah dilakukan sejak awal kenaikan kelas 3. Kepala SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta Heriyanti SPd mengemukakan pihaknya juga sudah membentuk tim sukses. Tim ini bukan untuk membuat strategi Unas tapi mempersiapkan sejumlah program untuk kelancaran pelaksanaan. Untuk mapel yang masih banyak ditakutkan siswa menurutnya setiap anak berbeda tergantung dari kemampuannya. Agar lebih fokus pada empat mapel yang diujikan satu bulan sebelumnya ia sudah wanti-wanti kepada guru-guru mapel non Unas untuk tidak memberi tugas yang memberatkan. “Kami sudah bilang ke guru-guru lain jangan memberi tugas yang bisa menambah beban anak. Kami juga rutin berkoordinasi dengan orangtua karena program di sekolah harus didukung program di rumah,” katanya. Ia menjelaskan anak-anak kelas 3 setiap Senin mendapat ‘sarapan’ pembahasan soal kelas 1-3 dan soal-soal Unas selama empat putaran. Selain itu try out rutin dengan hasil selalu dikomunikasikan dengan orangtua. Bagi anak yang mendapat nilai kurang dari 6 harus mengikuti program remidi dengan tambahan pelajaran sepulang sekolah. “Persiapan materi juga kami imbangi dengan persiapan mental yang juga melibatkan orangtua,” tambahnya. Terpisah Kepala SMA Taman Madya Perguruan Tamansiswa Cabang Jetis Yogyakarta Drs Yulius F Vau MM menyatakan, Matematika, Bahasa Inggris dan Ekonomi Akuntansi, masih jadi momok bagi siswa-siswinya. Matematika dan ekonomi akuntansi membutuhkan kemampuan hitung menghitung, sedang Bahasa Inggris karena bukan bahasa yang digunakan sehari-hari. “Tetapi pihak sekolah sudah melakukan antisipasi,” kata Yulius. Di antaranya pendalaman materi, pembahasan soal dengan menggunakan materi dari bank soal, mengikuti latihan soal MKKS sebanyak 3 kali pada bulan Januari, Februari dan Maret 2009. Rencana masih 1 kali lagi untuk latihan soal MKKS tingkat propinsi. Pihak sekolah menurut Yulius, sekarang fokus pada mata pelajaran yang menjadi materi Unas. Di samping itu, siswa juga diberi semangat untuk menambah rasa percaya diri. Sebab menurutnya Unas itu merupakan agenda rutin tiap tahun. Siswa juga sudah latihan mengerjakan soal. Sekolah juga menyelenggarakan doa bersama untuk lebih memantapkan siswa. (Ria/Nik/War)-m |