| |
Jual |
Beli |
| SGD |
6674.15 |
6545.15 |
| USD |
9480.00 |
9330.00 |
|
 |
|
|
 |
|
 |
| Sayap Sayap yang Terkembang 1787 |
 |
|
|
|
|
|
 |
|
| >>Opini Publik
|
| Catatan 50 Tahun Perjalanan Koes Bros/Plus (Juli 1960-2010)) ; Semangat Kebangsaan dan Pluralisme Lagu-lagu Koes Plus |
 |
31/07/2010 09:06:11 Siapa yang tak kenal Koes Plus maupun Koes Bersaudara? Siapa pun yang mengalami masa remaja tahun 60-an hingga pertengahan 80-an pasti tak asing lagi dengan dua nama grup band itu. Koes Plus yang merupakan kelanjutan dari Koes Bersaudara berdiri sekitar Mei 1969, setelah Koes Bersaudara bubar. Koes Bersaudara yang berdiri 1962 personelnya terdiri dari kakak beradik Tony Koeswoyo, Nomo K, Yon K dan Yok K. Mereka resmi bubar setelah Nomo menyatakan ingin menggeluti dunai bisnis. Konon Nomo beralasan musik tak dapat menjadi sandaran hidup. Kepergian Nomo terus diganti drummer Murry, sehingga nama band pun diubah menjadi Koes Plus. Dalam rangka mengenang 50 tahun Koes Bersaudara/Koes Plus bermusik ini menjadi tidak relevan kalau sekadar mengungkap kisah perjalanan mereka. Akan lebih bermakna membicarakan syair atau lirik-lirik lagu Koes Plus yang ternyata membawa pesan moral cukup mendalam dan bahkan tetap kontekstual bagi kehidupan generasi masa kini. Sampai dengan tahun 2009 Koes Plus telah merekam 74 album yang berisi 760 lagu. Sedangkan Koes Bersaudara menerbitkan 17 album yang berisi 203 lagu. Produktivitas mereka jelas belum ada yang bisa menandingi. Reputasi Koes Plus menurun sejak Tony K sebagai pemimpin sekaligus arsitek grup tersebut meninggal 27 Maret 1987. Apabila dicermati dengan seksama, lagu-lagu Koes Plus ternyata memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. penggunaan lirik lagu dengan kata-kata sederhana, sehingga mudah dimengerti; 2. melodinya cukup merdu (melodius) sehingga mudah ditirukan siapa pun; 3. nadanya manis dan harmonis sehingga enak didengar. Dengan ciri-ciri tersebut maka wajar apabila lagu-lagu Koes Plus sangat digemari masyarakat luas tanpa membedakan latar belakang status sosial. Misalnya lagu “Muda-mudi” (Album vol 9, 1974) liriknya cukup sederhana dan hanya terdiri 5 baris pendek, yakni: Muda-mudi zaman sekarang/ Pergaulan bebas nian/ Tiada lagi orang yang melarang/ Tapi sayang banyak salah jalan/ la 8x//. Kepuitisan syair lagu ini ditandai dengan adanya padanan bunyi konsonan dan vokal yang merdu pada tiap larik, sehingga pola persajakan seperti pantun. Ketika lagu itu diciptakan Koeswoyo Senior (ayah Toni dkk) 1974 agaknya telah dibayangkan bahwa pergaulan bebas mulai menjangkiti kaum muda saat itu. Koes Plus adalah satu-satunya band yang menciptakan lagu bertema pemujaan terhadap tanah air Indonesia hingga 8 buah, yakni “Nusantara 1” — “Nusantara 8”. Lirik-lirik lagu “Nusantara” menggambarkan keindahan, kekayaan, kemakmuran bumi Indonesia beserta keramahan masyarakatnya. Lagu “Nusantara 1” (Vol 1, 1970) secara jelas menggambarkan hal berikut. Kuharap kau tidak akan cemburu, melihat hidupku/ Hidupku bebas selalu kawanku, tak ada yang memburu oh/ Di Nusantara yang indah rumahku, kamu harus tahu/ Tanah permata tak kenal kecewa, di khatulistiwa// Hutannya lebat seperti rambutku 2x/ Gunungnya tinggi seperti hatiku 2x// ..... (mengulang bait ke-1)// Lautnya luas seperti jiwaku 2x/ Alamnya ramah seperti senyumku/ Tanahnya subur seperti tubuhku 2x/ Unggasnya bebas seperti hidupku 2x//..... (mengulang bait ke-1)// Lirik “Nusantara 1” di atas bergaya personifikasi, sehingga terasa cukup akrab dengan siapa pun saat melantunkan maupun mendengar lagu itu. Lukisan keindahan dan kekayaan bumi Nusantara lengkap dengan kehidupan flora, fauna, kebebasan dan keramahan penduduknya menumbuhkan rasa bangga kita sebagai bangsa Indonesia. (Bersambung hal 15)-c. Nuansa kebangsaan, cinta tanah air, rasa kebanggaan sebagai bangsa Indonesia cukup terasa saat kita menikmati lagu-lagu “Nusantara 1-8”. Inilah sesungguhnya nilai aktual sekaligus kontekstual lagu-lagu tersebut. Apalagi lagu-lagu tersebut berirama Mars (gembira), sehingga kemampuannya menggugah jiwa pendengar terasa lebih intens. Tema lagu “Nusantara” mirip dengan “Rayuan Pulau Kelapa” karya WR Soepratman. Lagu “Nusantara” layak disejajarkan dengan lagu-lagu perjuangan, sekalipun memiliki latar belakang historis penciptaan yang berbeda. Sebab lagu-lagu “Nusantara” juga mampu menggetarkan semangat nasionalisme pada kita. Akan tetapi sangat disayangkan bahwa pada peringatan-peringatan HUT RI dan peristiwa-peristiwa lain tak pernah diputar lagu “Nusantara”. Pluralisme sebagai manifestasi kerukunan antar etnis dan agama saat ini digalakkan pemerintah dan masyarakat dengan tujuan untuk mengurangi konflik antar etnis dan agama. Dalam konteks ini, Koes Plus sejak 35 tahun yang lalu (1974) telah memancangkan semangat pluralisme itu. Sebagaimana diketahui bahwa sepanjang 1974 Koes Plus merekam 22 album dengan berbagai jenis irama seperti pop Indonesia, Jawa, Melayu, rock, bosanova, keroncong, Barat, anak-anak, insrumentalia, dan Qasidah. Pada album berirama Qasidah itulah semangat pluralisme diperlihatkan Koes Plus. Ketiga anggota Koes Plus yakin Tony, Yon dan Yok beragama Nasrani, sedangkan Murry seorang Muslim. Akan tetapi mereka dapat berkolaborasi menciptakan album Qasidah yang cukup apik. Misalnya, lagu “Nabi Terakhir” yang dinyanyikan Yon liriknya sbb: Umat manusia di dunia sejak Nabi Adam dan Hawa/ Akhirnya Muhammad Rasulullah yang terakhir dan yang sempurna// Ya Muhammad, Ya Rasulullah/Yang mulia dan sempurna 2x// Umat Islam seluruh dunia/ Teguh hati mengikutinya/ Demi kesempurnaan kita/ di dunia dan akherat//..... (mengulang bait ke-1 dan 2// Allahumma shali’ala Muhammad wa’alaalimuhammad//. Yang menarik adalah bahwa pencipta dan penyanyi lagu-lagu Qasidah tersebut sebagian besar justru Tony dan Yon yang non Muslim. Sekalipun demikian mereka tampak tidak canggung melafalkan Alquran. Dari 11 lagu dalam album Qasidah, hanya lagu “Ya Allah” yang dinyanyikan Murry. Selebihnya dinyanyikan Yon dan Tony. Inilah sesungguhnya semangat pluralisme yang pantas diteladani masyarakat saat ini. Sekalipun mereka berbeda agama tetapi dapat bekerja sama dalam membuat album untuk syair Islam. Di tengah-tengah kondisi bangsa yang seringkali dilanda konflik antar etnis, dan agama yang terjadi di negeri ini, tak ada salahnya apabila kita membuka kembali lagu-lagu Koes Plus sebagai salah satu media kontemplasi untuk memperbaruhi semangat keindonesiaan kita. Di balik lirik-lirik lagu Koes Plus yang sederhana ternyata menyimpan berbagai amanat yang berharga untuk membangun semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang akhir-akhir ini mudah bergolak. Pesan moral yang berusia puluhan tahun itu kenyataannya tetap kontekstual bagi kehidupan kita sekarang. q - c. (1312-2010). *) Drs Nur Sahid MHum, Dosen Semiotika Teater dan Sosioilogi Teater, Jurusan Teater, ISI Yogyakarta dan s ekaligus Penggemar Koes Plus. |
|
 |
|
|
 |
|
| LEBARAN LAYANAN RS SARDJITO 24 JAM ; Terima Titipan 40 Pasien Gangguan Jiwa
|
 |
| 09/09/2010 03:30:24 YOGYA (KR) - Selama Lebaran tahun 2010 mulai H-7 hingga H+7 RSUP Dr Sardjito tetap membuka layanan kesehatan 24 jam Di samping itu juga membentuk tim satuan tugas (satgas) yang akan diterjunkan di 23 unit, di antaranya Unit Gawat Darurat (UGD), ICCU, ICU, kamar operasi, bius, cuci darah, laboratorium, radiologi, sterilisasi alat, farmasi, rawat inap dan rawat gangguan jiwa |
 |
|
|
|
|
 |
 |
 |
|
 |
|
| PRODUKTIVITAS KERJA : Pandai Bersyukur
|
 |
| 09/09/2010 03:30:24 DALAM ajaran agama selalu ditekankan agar kita bersyukur atas segala nikmat yang telah disediakan Sang Pencipta Syukur menurut kamus bahasa Indonesia adalah rasa terima kasih kepada Allah karena terlepas dari marabahaya, adanya keberuntungan, dan sebagainya |
 |
|
|
|
|