Jual Beli
SGD 6674.15 6545.15
USD 9480.00 9330.00
Sayap Sayap yang Terkembang 1787
Selengkapnya
Home>>Kolom
ANALISIS : Budaya Layar ===> Oleh : Sumbo Tinarbuko
01/08/2010 00:00:25 

BUDAYA layar sudah menjadi bagian dari hidup dan kehidupan masyarakat dunia. Dalam kesehariannya, mereka sangat tergantung pada keberadaan budaya layar. Pengikut budaya layar ditandai dengan aktivitasnya yang senantiasa bersinggungan dengan layar televisi, komputer (plus jaringan internet) dan telepon genggam. Ketika bekerja mencari nafkah, layar komputer berikut koneksi internet menjadi kebutuhan mutlak yang tidak bisa dipisahkan selama 8 jam di kantornya. Begitu juga layar televisi dan layar telepon genggam selalu stand by 24 jam penuh.
Jika dirunut lebih jauh, budaya layar ini ditengarai sejalan pemikiran  McLuhan tentang medium yang berasal dari perubahan kemudian menimbulkan pergantian bersifat paralel. Dengan demikian dapat dikatakan, budaya layar ‘berhasil’ membangun ruang publik dan komunitas maya baru dengan memanfaatkan piranti elektronik. Budaya layar dinilai sukses mewadahi masyarakat modern yang sebenarnya sangat haus melakukan interaksi sosial secara realistis dengan sesamanya, tetapi tidak bisa direalisasikan karena terjebak deadline yang membelenggu pekerjaannya.
Selain itu, kebutuhan manusia modern semakin hari kian membutuhkan ruang dan waktu. Ruang adalah media untuk melakukan komunikasi dengan siapa pun. Sedang pada unsur waktu, setiap individu senantiasa membutuhkan informasi, produk barang dan jasa dengan cepat, efisien dan efektif, maka budaya layar dengan dukungan peralatan elektronik super canggih mendapatkan tempat terhormat bagi pengikutnya.
Karena budaya layar senantiasa memfasilitasi ruang dan waktu yang dibutuhkan oleh berbagai karakter manusia guna menyatakan eksistensinya. Maka budaya layar menyediakan kesempatan bagi setiap individu untuk menyalurkan dan mengimplementasikan id, ego, dan superegonya melalui piranti elektronik yang melekat pada tubuh budaya layar tersebut.
Harus diakui, budaya layar sudah menjadi penanda zaman abad virtual. Keberadaan realitas virtual menjadi salah satu terminal pencapaian kebudayaan super modern sekarang ini. Dampaknya, manusia modern lebih suka berkomunikasi lewat perantaraan media virtual ketimbang menjalankan interaksi sosial vis a vis secara realistis dan manusiawi. Akibat lanjutannya, silaturahmi dalam perwujudan keintiman fisik bakal hilang.
Pada titik inilah, fenomena merebaknya budaya layar menimbulkan kontradiksi dan memunculkan paradoks yang tidak dapat dihindarkan antara satu dengan lainnya. Hal ini menjadi gejala alamiah dalam kehidupan ranah super modern.
Dari ketiga budaya layar, yang mendapat sorotan tajam adalah televisi. Sudah menjadi rahasia umum manakala layar televisi menjadi virus yang mampu menyebarkan ‘kejelekan’ sekaligus ‘kebaikan’ dalam waktu bersamaan. Televisi telah menjadi ‘orang tua baru’ bagi anak-anak yang ditinggal seharian oleh orang tuanya untuk mencari sesuap nasi. Sementara layar televisi bagi remaja dan orang dewasa bagaikan buku pelajaran yang mengajarkan budaya hedonis dan konsumtif dalam menapaki kehidupan modern ini.
Dalam layar televisi ada banyak tukang sulap yang mampu menyihir penonton. Mereka dibimbing agar mengganti gaya hidup tradisional dan menggantikannya dengan gaya hidup modern. Di sana diajarkan bagaimana cara berpikir, berbicara, berdebat, berkelahi, menyerang dan adat istiadat baru ala layar televisi. Mereka juga dilatih untuk mengedepankan pertimbangan emosional dalam konteks memenuhi kebutuhan konsumsi. Hasilnya ‘pendidikan’ sang layar televisi dapat disimak dengan perilaku banyak orang membeli produk barang dan jasa. Ditengarai, mereka membeli produk barang dan jasa melebihi apa yang dibutuhkan. Bahkan cenderung berlebihan.
Di layar kaca didendangkan pula sebuah dogma baru: kekayaan duniawi  harus diburu sebab kehormatan dan keberhasilan seseorang ditakar dengan seberapa banyak uang yang dimilikinya. Artinya, uang menjadi penanda kasta sosial seseorang di tengah gejolak zaman yang semakin anomali ini. Dampaknya, manusia menjadi semakin egois di dalam mempertahankan hidupnya. Segala jalan ditempuh demi mendapatkan segenggam kehormatan..
Dahsyatnya, ajaran semacam itu mendapatkan persemaiannya yang subur di dalam ladang hati, sikap dan gaya hidup sebagian besar masyarakat Indonesia yang mengaku modern. Semuanya itu semakin menegaskan keterpurukan kita sebagai masyarakat yang miskin imajinasi. Sekumpulan besar individu yang cenderung menisbikan keselarasan nalar perasaan dan akal pikiran.
Maka tidak berlebihan manakala kita menyepakati ajakan Gerakan Hari Tanpa TV dengan tidak menghidupkan televisi, pada 25 Juli 2010 silam. Dengan tidak menghidupkan layar televisi, diharapkan kita mampu menghindarkan diri dari sebentuk tatanan perikehidupan semu yang tidak menanamkan aspek moralitas dan budi pekerti dalam payung kearifan lokal. (Penulis adalah Pegiat Studi Kebudayaan dan Dosen ISI Yogyakarta)-a.

Berita Lainnya:
HIKMAH RAMADAN; Zakat, Biaya atau Bukan? ===> Prof Dr Muhammad Akhyar Adnan
Pak ASMUNI MENJAWAB : Salat Id di Hari Jumat
Husada==>SETELAH SEBULAN PENUH BERPUASA ; Nafsu Makan Jangan Lepas Kendali
Husada==>Usir DM dengan Lidah Buaya (2-Habis)
Pengadaan Instalasi Air Minum di Ponpes Al-Hikmah
LEBARAN LAYANAN RS SARDJITO 24 JAM ; Terima Titipan 40 Pasien Gangguan Jiwa
09/09/2010 03:30:24 

 YOGYA (KR) - Selama Lebaran tahun 2010 mulai H-7 hingga H+7 RSUP Dr Sardjito tetap membuka layanan kesehatan 24 jam Di samping itu juga membentuk tim satuan tugas (satgas) yang akan diterjunkan di 23 unit, di antaranya Unit Gawat Darurat (UGD), ICCU, ICU, kamar operasi, bius, cuci darah, laboratorium, radiologi, sterilisasi alat, farmasi, rawat inap dan rawat gangguan jiwa

KEPERCAYAAN TERHADAP LAZIS CUKUP TINGGI ; Perolehan Zakat di Yogya Meningkat
’NGABEKTEN’ DIIKUTI PAKU ALAM DAN PEJABAT ; Sultan Salat Id di Alun-alun Utara
KETOPRAK RINGKES ‘PUTRI CINA’ ; Kemasan Humor Spesial Lebaran
PRODUKTIVITAS KERJA : Pandai Bersyukur
09/09/2010 03:30:24 DALAM ajaran agama selalu ditekankan agar kita bersyukur atas segala nikmat yang telah disediakan Sang Pencipta Syukur menurut kamus bahasa Indonesia adalah rasa terima kasih kepada Allah karena terlepas dari marabahaya, adanya keberuntungan, dan sebagainya
‘Prepegan’, Pasar Tradisional Diserbu Warga
Layanan ‘Weekend Banking’ BNI
Permintaan Jasa Servis Motor Meningkat
Redaksi | Kontak Kami | Pasang Iklan | Profile Perusahaan | Disclaimer
Copyright © 1998 by KR Online Jl. P. Mangkubumi 40-44, Yogyakarta - Indonesia Telp. 62-274-565685 / Fax. 62-274-563125